Disway Award

Suara yang Datang dari Ombak

Suara yang Datang dari Ombak

Ilustrasi Ombak-Istock.com/Philip Thuraton-

Laut pagi itu memantulkan cahaya yang samar. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa, dan riuh ombak mengusap bibir pantai seperti doa yang diulang terus-menerus tanpa bosan. Angin membawa bau asin dan getir, menembus dada, membangkitkan sesuatu yang lama tersimpan di balik ingatan.

Aku datang ke tempat ini bukan sekadar untuk menatap laut. Ada sesuatu yang hilang di dalam diriku, sesuatu yang tak lagi bisa kujelaskan dengan kata-kata. Orang-orang menyebutnya kehilangan, tapi bagiku ia lebih dari itu: semacam keterputusan antara hidup dan makna.

Dulu, aku sering datang bersama Ayah. Kami duduk di atas batu karang, menyaksikan laut berubah warna dari biru muda menjadi kelabu tua. Ayah tak banyak bicara, tapi setiap gerak matanya mengandung pesan. Katanya, “Laut ini menyimpan segala suara yang tak pernah sempat kita ucapkan. Dengarkanlah, Nak. Ombak itu bernyanyi, bukan hanya memukul karang.”

Kini, bertahun-tahun setelah ia pergi bersama badai yang menenggelamkan perahunya, aku kembali ke tempat yang sama. Batu karang itu masih di sana, tapi entah mengapa tampak lebih kecil dari yang kuingat. Mungkin bukan batunya yang menyusut, melainkan aku yang tumbuh dan kehilangan rasa kagum terhadap hal-hal yang dulu sederhana.

Aku duduk, memandang ombak yang datang silih berganti. Dalam setiap buihnya, aku seolah melihat bayangan wajah Ayah teguh, sabar, tapi menyimpan letih yang tak diucapkan. Laut, pikirku, adalah satu-satunya makhluk yang tahu bagaimana menanggung duka tanpa menampakkannya.

“Untuk apa kau datang lagi ke sini?” tanya suara dari dalam diriku.

Aku menatap cakrawala. “Untuk mendengar,” jawabku pelan.

Suara itu tertawa kecil. “Kau pikir laut masih mau bicara padamu? Dunia sudah bising. Manusia tak lagi punya telinga untuk mendengar selain suara dirinya sendiri.”

Aku menunduk. Tapi kemudian, sesuatu bergerak dari arah air. Ombak datang lebih dekat, memercik ke batu karang tempatku duduk. Suaranya seperti bisikan yang lembut namun berwibawa.

Ombak: “Aku tidak pernah berhenti bernyanyi, anak manusia. Kalianlah yang berhenti mendengarkan.”

Aku: “Lalu apa yang kalian nyanyikan, wahai ombak?”

Ombak: “Tentang kesetiaan kami pada perjalanan. Tentang jatuh dan kembali, tentang luka yang kami ciptakan sekaligus kami sembuhkan. Setiap hempasan kami adalah salam pada karang, dan setiap buih adalah doa bagi yang hilang di tengah samudra.”

Aku terdiam. Ombak berbicara seperti seorang tua yang bijaksana, suaranya naik turun mengikuti irama air.

Aku: “Mengapa kalian tidak pernah marah, meski selalu hancur di karang yang sama?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: