Engkau yang Mewarnai Hidupku dengan Doa
Ilustrasi doa-Istock.com/Big_Ryan-
Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komnikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
INFORADAR.ID - Pagi di timur selalu datang dengan cara yang berbeda. Bagi orang-orang tua di kampungku, fajar bukan sekadar pergantian waktu, melainkan tanda kebesaran Tuhan yang berulang tanpa pernah lelah. Matahari yang terbit adalah ayat yang tidak tertulis, dibaca dengan diam dan syukur. Ia tidak sekadar muncul sebagai cahaya, melainkan sebagai peristiwa. Matahari naik perlahan dari balik perbukitan kapur, menyapu laut dengan kilau keemasan, seolah seseorang sedang menuangkan warna hangat ke kanvas raksasa bernama kehidupan. Di kampung kecil itu, di sebuah pulau yang tidak sering disebut di peta wisata, warna bukan hanya milik alam, warna juga milik rasa.
Aku lahir dan besar di sini, di tanah yang kering namun jujur. Islam yang kuterima sejak kecil tidak datang sebagai teriakan, melainkan bisikan: doa-doa pendek selepas subuh, shalawat lirih ibu saat menanak nasi, dan keyakinan bahwa alam adalah tanda-tanda Tuhan yang harus dibaca dengan adab.
Tanah yang mengajarkan bahwa hidup adalah soal cukup, bukan soal lebih. Setiap langkah di pasir dan batu kapur selalu diiringi doa pendek yang diajarkan ibu: agar laut ramah, agar pulang tidak menjadi perpisahan. Angin laut membawa bau asin dan suara perahu kayu yang beradu pelan dengan dermaga.
Hari-hari berjalan dalam irama yang nyaris sama: sebuah wirid sunyi antara kerja dan doa, antara ikhtiar manusia dan tawakal kepada Yang Maha Menjaga. Laut kami hormati seperti makhluk hidup tidak disapa dengan keserakahan, tidak ditantang dengan kesombongan.
sebuah wirid sunyi antara kerja dan doa, antara usaha manusia dan pasrah kepada Yang Maha Menjaga. bangun sebelum matahari tinggi, membantu ayah memeriksa jaring, lalu kembali ketika panas mulai menyengat tulang. Hidup tidak buruk, hanya terasa datar. Seperti kain putih yang belum pernah disentuh pewarna.
Sampai suatu sore, ketika warna itu datang.
Ia muncul pertama kali di pelabuhan kecil, turun dari kapal perintis yang datang seminggu sekali. Tidak ada yang istimewa dari cara ia melangkah, kecuali caranya memandang sekeliling, seperti seseorang yang tidak sekadar melihat, tapi menyimak. Kulitnya sawo matang, rambutnya diikat sederhana, dan di matanya ada kilau ingin tahu yang jarang kulihat pada orang-orang yang singgah lalu pergi.
Namanya Lila.
Ia datang untuk mengajar di sekolah dasar kampung, kata kepala desa. Anak-anak menyambutnya dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan rasa canggung mereka. Aku sendiri hanya mengangguk saat berpapasan, merasa ada sesuatu yang berubah, meski belum tahu apa.
Hari-hari berikutnya, aku sering melihatnya berjalan pagi menyusuri pantai. Ia duduk di batu karang, menatap laut seolah sedang berdialog dengan sesuatu yang jauh. Kadang ia membawa buku, kadang hanya diam. Aku, entah mengapa, mulai menyesuaikan langkah agar bisa berpapasan dengannya. Kami berbincang hal-hal sederhana: cuaca, laut yang sedang pasang, atau anak-anak yang suka bertanya terlalu banyak.
Lila tertawa dengan cara yang membuat udara terasa lebih ringan. Ia tidak banyak bercerita tentang dirinya, hanya mengatakan bahwa ia berasal dari kota yang terlalu bising, tempat orang-orang sibuk mengejar waktu hingga lupa mendengarkan dirinya sendiri. Di sini, katanya, waktu berjalan dengan sopan.
Aku tidak pernah pandai merangkai kata, apalagi mengungkapkan perasaan. Hidup mengajariku untuk bekerja, bukan berbasa-basi. Namun, sejak Lila datang, ada ruang kosong di dadaku yang mulai terasa terisi. Seperti warna yang perlahan meresap ke serat kain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
