Disway Award

Suara yang Datang dari Ombak

Suara yang Datang dari Ombak

Ilustrasi Ombak-Istock.com/Philip Thuraton-

Ombak: “Karang bukan musuh kami. Ia adalah batas yang membuat kami mengenal diri. Tanpa karang, kami akan kehilangan bentuk. Tanpa benturan, kami takkan tahu arah.”

Aku menghela napas panjang. Kata-kata itu menembus ke dalam diriku. Berapa banyak kali aku merasa marah kepada hidup, padahal yang kuhadapi hanyalah batas-batas yang sedang mengajarkanku bentuk?

Aku: “Dan laut… apakah ia juga berbicara sepertimu?”

Ombak: “Laut adalah ibu kami. Ia tak banyak bicara, tapi memeluk segalanya. Jika kau berani mendengar, ia akan menjawab dengan diamnya.”

Aku menatap permukaan laut yang berkilau. Seolah mengerti, lautan menghela panjang, tenang, lalu sebuah suara berat namun lembut muncul di dalam benakku bukan dari luar, melainkan dari kedalaman yang tak terukur.

Laut: “Anak manusia, mengapa kau datang dengan wajah sedih?”

Aku: “Aku kehilangan arah. Aku merasa tak tahu lagi untuk apa hidup ini.”

Laut: “Hidup tidak menuntutmu tahu segalanya. Ia hanya memintamu setia berjalan. Seperti ombak yang setia padaku, meski ia tahu akan pecah setiap kali tiba di pantai.”

Aku: “Tapi pecah itu menyakitkan.”

Laut: “Benar. Tapi di sanalah keindahan hidup: di antara sakit dan kembali. Pecah bukan berarti lenyap, melainkan pulang pada asalnya. Bukankah ombak selalu kembali menjadi laut?”

Air mataku menetes tanpa kusadari. Kata-kata itu terasa seperti panggilan lama yang akhirnya kujawab.

Aku: “Apakah Ayah juga telah menjadi bagian darimu, Laut?”

Laut: “Ia tidak pernah pergi. Setiap manusia yang jatuh ke pangkuanku menjadi lagu yang kualunkan sepanjang masa. Dengarkan ombak di malam hari, di situ kau akan temukan suaranya.”

Ombak menggulung perlahan, seperti menegaskan kalimat itu. Aku memejamkan mata, dan dalam dengung lembut air, kudengar samar suara yang dulu akrab: tawa Ayah, nyanyian nelayan, kidung kehidupan yang tak pernah mati.

Sore menjelang. Cahaya mulai memerah, laut berubah menjadi lembaran emas cair. Suara anak-anak nelayan terdengar dari kejauhan, bercampur dengan nyanyian ibu-ibu yang menjemur jala. Aku berdiri, menatap horizon yang mulai kabur.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: