Sidang Kecil di Ruang Besar Bernama Kampus: Catatan KKN dari Ruang Ujian Hingga Pesisir Karangsepi
Ilustrasi cerpen dengan nuansa perkampungan-Freepik-
Di luar gedung, angin sore berhembus. Jauh di Banten Selatan, ombak terus memukul pantai Desa Karangsepi, tak peduli pada judul program, tanda tangan, atau warna map.
Mungkin, pikir ombak, pengabdian memang selalu diuji dua kali:
di ruang kampus yang dingin,
dan di desa yang jauh lebih jujur.
Dan sering kali, yang paling sulit bukan menghadapi laut,
melainkan menghadapi meja administrasi sebelum berangkat ke sana.
***********
Ombak, Map, dan Pengabdian setelah kelompok-kelompok awal keluar dengan wajah pucat bercampur optimisme palsu, kelompok ketiga dipanggil masuk. Mereka datang terlambat dua menit, bukan karena tidak disiplin, tetapi karena printer fakultas mendadak “butuh waktu merenung”.
“Kami mohon maaf, Pak, Bu,” kata ketua kelompok, sambil menata proposal yang masih hangat.
Pak Darman menatap jam dinding.
“Dua menit itu lama. Di desa, dua menit bisa berarti perahu terlepas.”
Mahasiswa mengangguk serius, meski dalam hati bertanya-tanya apa hubungan jam dinding kampus dengan perahu nelayan.
Judul mereka dibacakan:
“Pemberdayaan UMKM Pesisir melalui Branding Ikan Asin Berbasis Kearifan Lokal.”
“Branding?” Pak Darman menaikkan alis.
“Ikan asin itu ya ikan asin. Sejak nenek moyang juga begitu.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
