Disway Award

Tren Hubungan Tanpa Status Bikin Mahasiswa Galau Brutal

Tren Hubungan Tanpa Status Bikin Mahasiswa Galau Brutal

Fenomena hubungan tanpa status di kalangan mahasiswa -Foto oleh AntonioGuillem di Getty Images-

INFORADAR.ID - Fenomena hubungan tanpa status atau situationship kian marak di kalangan mahasiswa. Kedekatan yang menyerupai pacaran intens seperti chatting, perhatian berlebihan, hingga sering menghabiskan waktu bersama, kerap terjadi tanpa kejelasan label.

Alih-alih menghadirkan kenyamanan, hubungan abu-abu ini justru memicu overthinking, kecemburuan tersembunyi, hingga kelelahan emosional.

Marifatus Sholihah, mahasiswi Ekonomi Syariah dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menilai, situationship di lingkungan kampus saat ini sering kali terasa seperti pacaran, tetapi statusnya sengaja dibiarkan menggantung.

Menurutnya, hubungan ini ditandai dengan komunikasi intens dan kedekatan emosional, namun selalu menghindari definisi yang jelas.

“Situationship di kalangan mahasiswa itu biasanya rasa pacaran, tapi statusnya ngambang. Chat tiap hari, saling perhatian, sering nongkrong bareng, vibes-nya kayak couple, tapi kalau ditanya ‘kita apa?’ jawabannya muter-muter,” ujar Marifatus.

Ia menjelaskan, banyak mahasiswa memilih hubungan tanpa status karena ingin ada teman berbagi di tengah padatnya kuliah, namun belum siap dengan komitmen.

Dalam praktiknya, kondisi ini sering kali tidak seimbang karena perasaan sulit untuk tetap netral.

Secara tidak langsung, Marifatus menyebut bahwa masalah utama dari situationship muncul ketika salah satu pihak mulai berharap, sementara pihak lain berlindung di balik dalih “tidak pernah berjanji apa-apa”.

Dari sinilah muncul kecemburuan diam-diam dan rasa lelah yang dipendam sendiri.

BACA JUGA:Fenomena Birthday Blues: Saat Ulang Tahun Tak Selalu Membawa Bahagia

BACA JUGA:Dikira Serigala, Ternyata Satwa Langka: Tragedi Binturong di Pandeglang

Lebih jauh, ia menilai alasan mahasiswa menjalani hubungan tanpa status bukanlah faktor tunggal.

Ada campuran antara keinginan untuk bebas, ketakutan akan patah hati, hingga trauma dari hubungan sebelumnya.

“HTS itu kayak tameng. Bisa ngerasain manisnya hubungan tanpa harus siap nerima risikonya. Aman di kepala, tapi sering nyakitin di hati,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: