Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi kelompok rentan. Dunia usaha dapat membuka akses terhadap pekerjaan dan pelatihan keterampilan. Lembaga pendidikan dapat membantu anak-anak yang terancam putus sekolah. Organisasi sosial dapat memberikan pendampingan yang berkelanjutan.
Sementara itu, kita sebagai warga kota dapat memulai dari hal-hal sederhana: tidak merendahkan, tidak melakukan kekerasan, tidak mengeksploitasi, dan tidak memperlakukan kemiskinan sebagai bahan lelucon.
Sebab, manusia yang hari ini mengulurkan tangan meminta pertolongan tidak kehilangan martabatnya hanya karena ia sedang tidak memiliki apa-apa.
Kita Semua Sedang Diuji oleh Kota
Lagu Gelandangan mengajak kita melihat kehidupan dari sisi yang jarang mendapatkan panggung. Ia membawa perhatian kita kepada manusia yang sering hadir di depan mata, tetapi tidak selalu masuk ke dalam kesadaran.
Barangkali kita tidak dapat mengubah seluruh wajah kota dalam satu malam. Kita juga tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan kemiskinan hanya dengan beberapa lembar uang.
Namun, kita dapat mengubah cara memandang orang-orang yang hidup di pinggir jalan. Kita dapat berhenti menjadikan penderitaan mereka sebagai tontonan. Kita dapat mendukung kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan. Dan kita dapat menuntut agar pembangunan tidak hanya menghasilkan gedung-gedung megah, tetapi juga kehidupan yang lebih bermartabat.
Pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan orang miskin untuk bertahan hidup. Yang sedang diuji juga adalah nurani kita yang hidup berkecukupan.
Apakah kita masih mampu merasa terusik ketika melihat anak kecil bekerja di tengah lalu lintas? Apakah kita masih mau memikirkan nasib seorang pengamen setelah lagu terakhirnya selesai? Apakah kita masih bisa melihat manusia di balik kostum badut, pakaian lusuh, dan tangan yang terulur?
Ataukah kita sudah terlalu terbiasa sehingga penderitaan itu tidak lagi terasa sebagai persoalan?
Mungkin, yang paling menyedihkan bukan hanya ketika seseorang kehabisan air mata untuk menangisi nasibnya. Yang lebih menyedihkan adalah ketika masyarakat kehabisan kepedulian untuk memahami mengapa air mata itu jatuh.
Kota boleh terus tumbuh. Gedung boleh semakin tinggi. Jalan boleh semakin lebar. Ekonomi boleh semakin maju.
Tetapi, apa artinya semua itu jika di antara kemegahan tersebut masih ada anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, orang dewasa yang kehilangan tempat berteduh, dan manusia-manusia yang harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi?
Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa banyak orang yang berhasil berdiri di puncak kesejahteraan, melainkan juga seberapa sungguh-sungguh bangsa itu berusaha agar mereka yang tertinggal tidak dibiarkan jatuh sendirian.
Kota yang manusiawi bukan kota tanpa orang miskin yang terlihat. Kota yang manusiawi adalah kota yang tidak membiarkan kemiskinan menjadi takdir bagi siapa pun.
Dan mungkin, itulah pesan paling dalam dari spirit Gelandangan: ketika kita mendengar keluh kesah manusia yang hidup di pinggir jalan, sesungguhnya kita sedang mendengar pertanyaan tentang diri kita sendiri, masihkah kita memiliki hati untuk sesama?