Kota yang Kehilangan Air Mata

Senin 02-11-2026,13:03 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Menolong Tanpa Merendahkan

Agama mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Namun, kepedulian tidak seharusnya berhenti pada tindakan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ia juga harus tercermin dalam cara kita memandang mereka.

Menolong tidak berarti merasa lebih tinggi daripada orang yang ditolong.

Sedekah kehilangan sebagian makna kemanusiaannya apabila disertai penghinaan. Bantuan menjadi tidak utuh ketika penerimanya diperlakukan seolah-olah tidak memiliki harga diri.

Dalam Al-Qur'an, Surah Al-Ma'un mengingatkan tentang orang yang mendustakan agama, antara lain melalui sikap menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin. Pesan ini mengajak kita memahami bahwa kesalehan tidak cukup dinyatakan melalui ritual, tetapi perlu terlihat dalam kepedulian terhadap sesama.

Namun, kepedulian juga harus bijaksana.

Memberi uang kepada anak yang berada dalam situasi eksploitasi, misalnya, belum tentu menyelesaikan persoalannya. Dalam keadaan demikian, membantu melalui lembaga sosial yang tepercaya, melaporkan dugaan eksploitasi kepada pihak berwenang, atau mendukung program perlindungan anak dapat menjadi langkah yang lebih tepat.

Yang penting, jangan sampai niat menertibkan kota justru menghilangkan hak manusia untuk hidup layak.

Kota memang membutuhkan ketertiban. Pejalan kaki harus aman, lalu lintas harus lancar, dan ruang publik harus berfungsi dengan baik. Tetapi penertiban tidak boleh sekadar memindahkan orang miskin dari tempat yang terlihat ke tempat yang tidak terlihat.

Kota yang bersih bukanlah kota yang berhasil menyembunyikan kemiskinannya, melainkan kota yang berusaha mengatasi penyebab kemiskinan itu sendiri.

Dari Belas Kasihan Menuju Keadilan

Belas kasihan merupakan awal yang baik, tetapi keadilan sosial menuntut sesuatu yang lebih jauh. Belas kasihan membuat kita memberikan makanan kepada orang yang lapar. Keadilan mendorong kita bertanya mengapa ia terus-menerus kelaparan.

Belas kasihan membuat kita memberi uang kepada anak jalanan. Keadilan menuntut agar anak itu mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kesempatan untuk tumbuh tanpa harus mencari nafkah di persimpangan.

Belas kasihan membuat kita merasa sedih melihat gelandangan tidur di emperan toko. Keadilan mendorong pemerintah dan masyarakat mencari jalan agar setiap orang memiliki akses terhadap tempat tinggal yang aman dan layak.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Kita tetap perlu menolong orang yang membutuhkan sekarang, sembari membangun sistem yang mengurangi kemungkinan penderitaan serupa terulang esok hari.

Di sinilah tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi sosial, keluarga, dan masyarakat menjadi penting.

Kategori :