Kadang-kadang hidup terasa seperti lingkaran yang aneh. Hal-hal yang dulu membawa seseorang masuk ke hidupmu, suatu hari juga menjadi kenangan yang menandai kepergiannya.
Bima menatap telepon itu sekali lagi.
“Kalau kamu menelepon malam ini,” katanya pelan, “aku masih di sini.”
Ia tersenyum kecil, meskipun tidak ada yang melihat.
Waktu terus berjalan.
Jarum jam melewati pukul dua belas.
Telepon itu tetap diam.
Namun entah kenapa, Bima tidak merasa benar-benar marah. Tidak juga putus asa sepenuhnya. Yang ia rasakan hanyalah semacam ruang kosong yang luas, ruang di mana harapan dan kenyataan berdiri berhadapan tanpa saling menyentuh.
Di luar, hujan semakin deras.
Bima mematikan lampu ruang tamu, tetapi ia tidak memindahkan telepon itu. Ia membiarkannya tetap di atas meja, tepat di tempat yang sama.
Barangkali besok malam ia akan menunggu lagi.
Atau lusa.
Atau mungkin sampai suatu hari ia menyadari bahwa yang sebenarnya ia tunggu bukan hanya nada dering telepon, melainkan seseorang yang dulu pernah membuat dunia terasa lebih hidup.
Di dalam rumah yang gelap itu, hanya satu hal yang masih setia menemani: kesunyian malam.
Dan di tengah kesunyian itu, sebuah telepon tetap terbaring diam, seperti janji yang pernah diucapkan, tetapi tidak pernah benar-benar kembali.