Di Ujung Nada Dering yang Tak Pernah Datang

Senin 26-10-2026,17:19 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Bima akan bercerita tentang kantor, tentang hujan, tentang kucing yang sering tidur di depan kontrakannya. Larasati akan tertawa, lalu menceritakan kota barunya yang lebih ramai, jalan-jalan yang belum ia hafal, dan teman-teman baru yang mulai ia kenal.

Kadang percakapan itu berakhir dengan keheningan kecil.

“Bima?”

“Iya?”

“Aku kangen.”

Kalimat itu dulu terasa seperti musik yang lembut di telinganya.

Namun lambat laun, nada dering telepon mulai jarang terdengar.

Awalnya hanya karena kesibukan. Larasati sering lembur. Kadang ia terlalu lelah untuk menelepon.

“Besok ya,” katanya suatu malam.

Besok berubah menjadi beberapa hari.

Beberapa hari berubah menjadi minggu.

Dan kini, tiga bulan sudah berlalu.

********

Pukul sebelas malam.

Bima berdiri dan berjalan ke jendela. Udara malam terasa dingin. Dari jauh, ia bisa mendengar suara radio dari rumah tetangga yang memutar lagu lama.

Ia kembali duduk di kursinya.

Tangannya hampir saja meraih gagang telepon. Ia ingin menelepon Larasati lebih dulu. Ia sudah hafal nomor itu di luar kepala.

Kategori :