konflik bukan lagi pertarungan yang harus ada pemenangnya, melainkan persoalan bersama yang harus dipecahkan bersama. Sementara itu, psikolog William Gudykunst lewat teorinya tentang Manajemen Kecemasan dan Ketidakpastian.
Mengingatkan bahwa rasa canggung saat berhadapan dengan orang dari budaya berbeda adalah hal yang wajar.
Namun bisa berbahaya bila dibiarkan tanpa ruang untuk saling bertanya dan mendengar.
Menariknya, jauh sebelum teori-teori itu dirumuskan di jurnal akademik Barat, bangsa ini sudah mengenal prinsip serupa dengan nama yang lebih akrab: musyawarah.
Bukan sekadar rapat, musyawarah adalah cara pandang bahwa keputusan terbaik lahir dari proses mendengar, bukan memaksa.
Ditopang oleh semangat gotong royong dan toleransi, nilai-nilai kearifan lokal ini sejatinya adalah fondasi alami sebuah win-win solution.
Peneliti Susi Fitria Dewi mencatat bahwa pendekatan berbasis nilai yang sudah dikenal masyarakat terbukti lebih mudah diterima karena tidak terasa asing atau dipaksakan dari luar.
Apa yang dilakukan Indonesia di Washington bukan hal baru, ia hanyalah versi besar dari yang seharusnya terjadi di balai warga, di teras rumah, di meja makan.
Menyelesaikan konflik antarbudaya tidak membutuhkan keahlian diplomatik khusus. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir dan sungguh-sungguh mendengar.
Seperti yang pernah diungkapkan sosiolog Clifford Geertz, makna tidak lahir dari struktur, melainkan dari interaksi.
Dan setiap interaksi yang baik selalu dimulai dari satu hal sederhana: memberi ruang bagi orang lain untuk bicara.
Penulis: Dania Kurniasi Mahasiswa UIN SMH Banten