Saat Kolom Komentar Jadi Medan Perang: Kenapa Kita Sulit Berempati Soal Agama?
Media sosial-Unsplash-
INFORADAR.ID- Coba lihat kolom komentar di media sosial saat ada konten tentang agama.
Yang muncul sering kali bukan diskusi sehat, melainkan hinaan, label, dan prasangka.
Orang mudah menyebut “radikal”, “kafir”, atau memberi cap tertentu hanya dari penampilan dan identitas seseorang.
Salah satu contohnya terjadi pada 2023, ketika video perempuan bercadar di minimarket viral di media sosial.
BACA JUGA:Ketika Selametan Berubah Makna, Tradisi Di Jawa Tengah Gaya Hidup Modern
BACA JUGA:Asah Insting Jurnalistik di Alun-alun Kota Serang, Gen RB Batch 3 Terjun Langsung Praktik Liputan
Tidak ada hal aneh dalam video itu, tetapi banyak komentar langsung mengaitkannya dengan radikalisme.
Di sisi lain, kelompok agama minoritas yang menyuarakan kesulitan mendirikan tempat ibadah juga sering dianggap provokatif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa stereotip agama masih kuat di ruang digital.
Dalam kajian komunikasi antarbudaya, hal ini dapat dijelaskan melalui teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) dari William B. Gudykunst.
BACA JUGA:Saat Isu Agama Menjadi Headline: Mampukah Media Menjaga Persatuan Bangsa?
BACA JUGA:Senggolan Dikit Gak Langsung Perang: Trik Jitu Selesaikan Konflik Pakai Win-Win Solution!
Teori ini menjelaskan bahwa perbedaan agama atau budaya dapat memunculkan rasa cemas dan ketidakpastian. Jika tidak dikelola dengan baik, perasaan itu berubah menjadi prasangka.
Media sosial memperparah keadaan melalui echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang hanya melihat pendapat yang sejalan dengannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: