Di kampung kami, hujan selalu diterima sebagai rahmat, bukan gangguan. Orang-orang tua akan berhenti sejenak, menengadah, lalu berbisik lirih menyebut nama Tuhan, seakan setiap tetes adalah jawaban atas doa yang lama disimpan. Hujan di timur tidak pernah ragu: ia jatuh deras, singkat, dan jujur. Kami berteduh di bawah pohon lontar, mendengarkan suara tetes air yang memukul tanah. Lila tersenyum, matanya mengikuti garis-garis air yang jatuh.
"Aku suka hujan di sini," katanya pelan. "Tidak menyisakan dingin yang lama."
Aku mengangguk. Aku ingin mengatakan bahwa aku suka caranya memandang dunia, bahwa sejak ia datang, laut tampak lebih biru, langit lebih luas, dan kampung ini yang kupikir telah kukenal seumur hidup, tiba-tiba terasa baru. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Mereka terlalu besar untuk lidahku.
Malam-malam mulai diisi dengan cerita. Selepas isya, udara menjadi lebih jinak. Langit dipenuhi bintang yang terasa begitu dekat, seperti tasbih cahaya yang bergantung di atas kepala. Lila pernah berkata bahwa di tempat lain, bintang hanya hiasan langit; di sini, mereka terasa seperti pengingat agar manusia tidak lupa arah pulang. Kami duduk di beranda rumah, ditemani lampu minyak dan suara jangkrik.
Lila bercerita tentang murid-muridnya yang menggambar matahari berwarna hijau dan laut berwarna merah, karena bagi mereka, warna adalah perasaan, bukan aturan. Aku mendengarkan, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa cukup hanya dengan mendengar.
Namun, seperti semua hal yang indah, waktu tidak pernah berhenti untuk menunggu. Kabar itu datang dengan tenang, nyaris tanpa suara. Kontrak Lila akan berakhir. Ia harus kembali ke kota, ke kehidupannya yang lama. Ia menyampaikannya suatu malam, dengan suara yang berusaha terdengar biasa.
Aku menerimanya seperti menerima takdir, dengan dada yang berat namun pasrah. Dalam pengajian kecil di surau pantai, pernah kudengar nasihat tua: pertemuan adalah titipan, perpisahan adalah pengembalian. Keduanya sama-sama amanah. Aku menerimanya seperti menerima takdir, dengan dada yang berat namun pasrah. Di timur, orang-orang percaya bahwa pertemuan dan perpisahan adalah dua ayat yang ditulis dengan tinta yang sama.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada rasa sesak yang tiba-tiba mengisi dadaku, seperti udara yang mendadak hilang. Kampung ini, yang selama ini terasa lapang, menjadi sempit dalam sekejap.
"Aku akan merindukan tempat ini," katanya. "Dan orang-orangnya."
Ia menatapku, lama. Dalam tatapan itu, ada pertanyaan yang tidak terucap, dan mungkin juga jawaban yang sama-sama kami takuti.
Hari-hari menjelang kepergiannya diisi dengan kesunyian yang aneh. Kami tetap bertemu, tetap berbincang, tapi ada jarak yang tidak kasat mata. Seperti warna yang mulai pudar, takut jika disentuh terlalu keras.
Di hari terakhirnya, matahari terbit dengan warna yang paling lembut. Sebelum berangkat ke pelabuhan, aku singgah di surau kecil dekat pantai. Di sana, aku menengadahkan tangan, membaca Al-Fatihah pelan, bukan untuk meminta agar ia tinggal, melainkan agar langkahnya dilapangkan dan hatiku dijaga dari rasa memiliki yang berlebihan.
Aku sempat berdiri sendiri sebelum berangkat ke pelabuhan, menengadahkan tangan, memanjatkan doa sederhana: semoga langkahnya dilindungi, semoga perpisahan ini tidak menghapus kebaikan yang telah dititipkan Tuhan di antara kami. Kami berjalan ke pelabuhan tanpa banyak bicara. Kapal perintis sudah menunggu, mesinnya berdengung pelan.
Lila berhenti sejenak, menatap laut, lalu menatapku. "Terima kasih," katanya. "Kau telah… mewarnai duniaku dengan caramu sendiri."
Aku ingin mengatakan bahwa justru ia yang melakukan itu padaku. Bahwa sebelum ia datang, hidupku adalah garis-garis hitam putih yang rapi namun kosong. Bahwa kehadirannya mengajarkanku melihat bukan hanya memandang. Tapi sekali lagi, kata-kata itu tertahan.
Ia naik ke kapal. Aku berdiri di dermaga, melambaikan tangan hingga kapal itu menjadi titik kecil di cakrawala.