Jangan Baca Buku Ini Jika Tak Mau Menderita

Jangan Baca Buku Ini Jika Tak Mau Menderita

Resensi Novel Menunggu Zakiyah karya Ahmad Wayang-Ahmad Wayang-

Oleh Daru Pamungkas, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN SMH Banten

 

INFORADAR.ID - Novel Menunggu Zakiyah karya Ahmad Wayang sebaiknya jangan kamu baca jika hidupmu sedang baik-baik saja. Karena kisah di dalamnya, akan membawa kamu pada penderitaan cinta dan air mata. 

Zakiyah, Tusnedi Jawir, Rosidana Ayu, dan Badri Mubarok ialah tokok-tokoh sentral yang penulis ciptakan dalam kisah ini, dan berhasil membawa saya sebagai pembaca, masuk ke dalam ruang imajinasi yang penuh luka dan duka.

Sebagai orang yang begitu mengenal Ahmad Wayang, saya merasa heran dengan ayah dua anak ini. 

Di tengah kesibukannya sebagai dosen di Universitas Sultan Maulana Hasanudin Banten, pengurus organisasi keagaamaan, mengelola Website Kataway.co.id, menjadi staf di Pemerintahan, hingga terbaru menjabat sebagai Kaprodi di Institut Alkhairiyah Cilegon, Ahmad Wayang mampu menulis novel dengan gaya bahasa sederhana namun mengena.

Ada dua sudut pandang yang bisa kita pelajari dari sosok Tusnedi Jawir, tokoh utama dalam novel ini yang begitu intens dalam mencintai Zakiyah, wanita pujaannya. 

Pertama, dalam menjalani hidup ini, kita patut berkaca pada sikap ambisius dan pantang menyerah yang dilakukan Tusnedi Jawir dalam meraih cintanya pada Zakiyah.

Namun pelajaran di point kedua, kita juga sebaiknya tidak melakukan, bahkan jangan menghalalkan segala cara, bukan hanya pada perkara cinta, namun hal apapun untuk meraih keinginan dan memuaskan hasrat mewujudkannya.

Tusnedi Jawir yang sejak awal cerita sebenarnya kehilangan Zakiyah lantaran sudah bersuami dengan Badri Mubarok, tak mau berpasrah diri dan menerima keadaaan. 

Ia terus memperjuangkan cintanya dengan mendekati Rosdiana Ayu, yang tak lain ialah anak kandung Zakiyah dan Badri. Hal ini menjadi sebuah pergulatan yang melahirkan cerita cinta pada ranah yang lebih rumit.

Dalam teori penulisan novel, hal ini masuk pada istilah forbiden love, dimana tokoh yang jauh lebih dewasa usinya mencintai tokoh yang jauh lebih muda. 

Tusnedi Jawir yang sudah tua jatuh cinta, bahkan berpacaran dengan Rosdiana Ayu yang masih bersekolah di tingkat SMA. Hubungan keduanya tentu mendapat pertentangan dari Zakiyah dan juga kawan-kawan Rosdiana Ayu di SMA.

Namun di situlah letak kemahiran Ahmad Wayang sebagai penulis, ia mampu membawa pembaca pada kepiluan yang dialami Tusnedi Jawir maupun Rosdiana Ayu, yang kemudian bermuara pada rangkaian puzzle-puzzle cerita yang dibangun secara apik dan tidak cacat logika.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: