Artis Bernama Kepala Daerah
Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Mungkin para kepala daerah hari ini tidak memerlukan budak Romawi. Cukup membaca kolom komentar media sosial setelah satu kebijakan kontroversial keluar. Biasanya efeknya lebih cepat daripada filsafat.
Hari ini dipuji. Besok dicaci. Lusa dipuji lagi. Begitulah siklus kehidupan digital.
Filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer, pernah mengatakan bahwa ketenaran adalah sesuatu yang harus diperoleh pada malam hari, tetapi hilang pada pagi harinya.
Maksudnya sederhana: reputasi dibangun sangat lama, tetapi dapat runtuh hanya dalam sekejap.
Karena itu kepala daerah yang bijak tidak boleh bekerja demi popularitas. Popularitas harus menjadi akibat, bukan tujuan.
Sebab jika tujuan utamanya adalah popularitas, maka kebijakan akan berubah menjadi pertunjukan.
Rapat menjadi panggung. Kunjungan kerja menjadi sinetron. Bahkan peresmian gorong-gorong bisa terasa seperti konser musik.
Celakanya, rakyat sering kali tidak membutuhkan pertunjukan. Mereka membutuhkan air bersih. Mereka membutuhkan jalan. Mereka membutuhkan sekolah yang layak. Mereka membutuhkan puskesmas yang berfungsi. Mereka membutuhkan pupuk yang tersedia tepat waktu. Mereka membutuhkan birokrasi yang tidak membuat kepala pening.
Dalam hal ini, popularitas sesungguhnya mirip dengan parfum. Sedikit membuat harum. Terlalu banyak membuat pusing.
Pemimpin yang baik memahami bahwa dirinya hanyalah perantara. Jalan yang dibangun berasal dari uang rakyat. Jembatan yang berdiri berasal dari pajak rakyat. Gedung yang megah berasal dari keringat rakyat.
Karena itu ketika masyarakat memuji, yang patut muncul bukan kesombongan, melainkan rasa syukur dan tanggung jawab yang lebih besar.
Konfusius pernah mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang membuat rakyat berkata, “Kami berhasil melakukannya sendiri.” Kalimat itu sangat menarik.
Artinya keberhasilan pemerintahan bukanlah ketika rakyat terus meneriakkan nama pemimpinnya.
Keberhasilan pemerintahan adalah ketika rakyat merasakan manfaat pelayanan publik tanpa harus mengingat siapa yang meresmikannya.
Sayangnya, manusia memang makhluk yang senang dipuja. Itulah sebabnya hampir tidak ada politisi yang alergi terhadap kamera. Kalau ada acara dengan tiga kamera, biasanya mereka hadir. Kalau ada acara dengan lima kamera, mereka datang lebih awal. Kalau ada acara tanpa kamera, mendadak jadwalnya padat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: