Takut Salah Bicara di Forum Lintas Agama? Ini yang Sebenarnya Dialami Banyak Mahasiswa
Ilustrasi toleransi beragama.--Pinterest/Aleysharae
INFORADAR.ID - Di ruang diskusi kampus, obrolan soal agama sering terdengar sederhana. Namun bagi sebagian mahasiswa, duduk dalam forum lintas iman justru bisa memicu rasa cemas. Tak sedikit yang memilih diam, berbicara terlalu formal, atau berkali-kali meminta maaf sebelum menyampaikan pendapat karena takut dianggap menyinggung keyakinan orang lain.
Fenomena ini makin sering terlihat di berbagai kampus yang memiliki mahasiswa dari latar belakang agama dan budaya berbeda. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, perdebatan soal agama mudah berubah menjadi konflik digital. Akibatnya, banyak anak muda menjadi lebih berhati-hati ketika berdiskusi secara langsung.
Situasi tersebut sebenarnya pernah dijelaskan oleh pakar komunikasi antarbudaya, William B. Gudykunst, melalui teori Anxiety/Uncertainty Management. Menurut Gudykunst, seseorang akan mengalami kecemasan dan ketidakpastian ketika berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda. Orang menjadi bingung harus berbicara seperti apa, takut salah memilih kata, atau khawatir respons lawan bicara tidak sesuai harapan.
Kondisi itu sangat terasa dalam forum lintas agama di lingkungan mahasiswa. Pada awal diskusi, suasana biasanya masih canggung. Beberapa peserta berbicara dengan nada pelan, menghindari kontak mata, atau terlalu sering melihat moderator sebelum menyampaikan pendapat. Bahkan ada yang membuka pembicaraan dengan kalimat seperti, “Maaf kalau saya salah bicara,” atau “Saya takut pendapat saya menyinggung.”
BACA JUGA:Kalau Beda Budaya, Masih Bisa Nyambung Ngobrol Nggak Sih? Ini Jawabannya
BACA JUGA:Senggolan Dikit Gak Langsung Perang: Trik Jitu Selesaikan Konflik Pakai Win-Win Solution!
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kurang percaya diri. Banyak mahasiswa sebenarnya sedang berusaha menjaga hubungan sosial agar tetap aman. Mereka sadar bahwa isu agama termasuk topik sensitif yang mudah memicu kesalahpahaman.
Namun menariknya, kecemasan itu perlahan berubah ketika diskusi berlangsung lebih lama. Setelah peserta mulai saling memahami karakter satu sama lain, suasana biasanya menjadi lebih cair. Bahasa yang awalnya terlalu formal mulai berubah menjadi lebih santai dan inklusif.
Misalnya, peserta tidak lagi menggunakan kalimat yang terkesan mutlak seperti “agama saya paling benar”, tetapi menggantinya dengan ungkapan yang lebih terbuka seperti “dalam pemahaman yang saya pelajari.” Perubahan kecil dalam cara berbicara ternyata cukup berpengaruh terhadap kenyamanan forum.
Di titik inilah empati memainkan peran penting. Sikap sederhana seperti mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, memberi respons dengan tenang, atau menganggukkan kepala saat orang lain berbicara dapat membuat peserta merasa dihargai. Ketika seseorang merasa aman secara emosional, kecemasan komunikasi biasanya mulai menurun.
BACA JUGA:Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik
BACA JUGA:Bukan Bakat dari Lahir, Mengapa Label Jago Sejak Lahir Sering Mengabaikan Kerja Keras Seseorang
Realitas ini sangat dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Banyak mahasiswa sebenarnya hidup dalam lingkungan yang beragam, tetapi belum terbiasa berdialog secara mendalam dengan orang yang berbeda keyakinan. Akibatnya, interaksi lintas agama sering dipenuhi asumsi dan stereotip.
Media sosial juga memperparah keadaan. Ruang digital membuat banyak orang lebih mudah menyerang dibanding mendengarkan. Debat agama di internet sering berlangsung keras karena minim ekspresi nonverbal dan empati. Orang merasa aman menyerang lewat komentar, tetapi gugup ketika harus berdiskusi langsung secara tatap muka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: