Kita Bersaudara, Tapi Kenapa Saling Benci di Kolom Komentar
Komunikasi-Pinterest-
INFORADAR.ID- Coba buka kolom komentar video ceramah agama mana pun yang sedang viral sekarang.
Dalam hitungan detik, kamu akan menemukan dua kubu yang saling serang dengan kata-kata yang tidak pernah akan mereka ucapkan kalau bertemu langsung.
Mereka tidak kenal satu sama lain. Mungkin tinggal di kota yang berbeda. Tapi kebencian itu nyata, dan mengalir deras.
Yang lebih mengejutkan: ini terjadi di negara yang katanya ramah dan religius. Indonesia, 2025.
BACA JUGA:Angkat Isu Penyintas Kekerasan Seksual, Film Saat Aku Bersuara Siap Tayang Juni 2026
BACA JUGA:Mahasiswa UPI Serang Raih Juara Kompetisi Internasional
Bangsa yang setiap hari mengucapkan salam perdamaian, tapi di saat bersamaan memproduksi ujaran kebencian berbasis agama.
Psikolog sosial Gordon Allport menjelaskan bahwa intoleransi lahir dari prasangka yang tumbuh secara diam-diam.
Di era ini, algoritma media sosial membuat orang hidup dalam gelembung, hanya melihat pandangan sepihak.
Henri Tajfel menemukan kecenderungan manusia untuk meninggikan kelompok sendiri dan merendahkan kelompok lain, yang diperparah oleh media sosial.
Sosiolog besar Emile Durkheim pernah menggambarkan kondisi yang ia sebut anomie: ketika ikatan sosial melemah dan norma bersama kehilangan kekuatannya, masyarakat mulai tercerai-berai.
Kekosongan itu diisi oleh kecurigaan dan kebencian antarsesama. Apa yang kita lihat di media sosial hari ini bukan sekadar drama warganet, ini adalah gejala anomie yang sedang terjadi secara nyata.
Grup WhatsApp keluarga yang berubah jadi medan debat ideologis. Teman lama yang saling unfollow hanya karena beda pilihan politik yang dibungkus narasi agama.
Tetangga yang saling dingin setelah sebuah meme tersebar. Ini bukan hal sepele. Ini retakan di pondasi kehidupan bersama kita.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: