A Time for Us, di Antara Pagi Blora dan Senja Semarang
Ilustrasi cerpen Ahmad Sihabudin-By AI-
Setelah lulus kuliah, Laras memutuskan pulang ke Blora beberapa hari sebelum wisuda. Ia butuh menyentuh tanah yang dulu membesarkan dirinya. Butuh memastikan bahwa cinta yang ia simpan tidak benar-benar hilang. Ia menulis pesan pendek:
Dan, ketemu di jembatan? Aku di Blora.
Ardan datang. Motor tuanya berdebu. Wajahnya lebih dewasa, lebih matang, tapi matanya masih mata yang sama, mata yang selalu mencari Laras di kerumunan mana pun.
“Aku lulus,” ucap Laras pelan.
“Aku bangga,” jawab Ardan. Senyumnya tipis namun tulus, meski ada getir yang tidak ia sembunyikan. Mereka berdiri lama. Angin sore berembus.
Sawah terhampar luas seperti dulu.
Namun hati mereka sudah tidak sama seperti masa SMA, ia berlapis luka, rindu, marah, penantian, dan rasa takut.
“Dan…” suara Laras bergetar, “aku masih ingin kita.”
Ardan menutup mata.
Sebagian dirinya ingin mengatakan: Ya, kita.
Sebagian lainnya ingin berkata: Pergilah, kamu berhak bahagia.
“Aku nggak pernah berhenti cinta,” bisik Ardan akhirnya. “Aku cuma takut jadi alasan kamu membatasi mimpi.”
Laras melangkah mendekat. “Kalau aku terbang, kamu pusat gravitasiku. Kamu bukan batas. Kamu rumah.”
Dan sore itu, mereka berpelukan, pelukan yang tidak lagi seperti anak SMA, tapi pelukan dua manusia yang telah dewasa, terluka, dan memilih tetap bersama meski masa depan masih penuh kabut.
Tidak ada janji untuk selamanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
