A Time for Us, di Antara Pagi Blora dan Senja Semarang
Ilustrasi cerpen Ahmad Sihabudin-By AI-
Laras menggigit bibir. “Kenapa kamu bicara begitu?”
“Karena aku takut,” jawab Ardan. “Takut suatu hari Semarang memberimu seseorang yang lebih pantas dari aku.”
Kata-kata itu jatuh seperti hujan yang mendadak turun tanpa mendung.
Laras memeluk Ardan, dan untuk pertama kalinya sejak lama, lelaki itu tidak memeluk balik seerat biasanya. Ada jarak tipis yang tak terlihat, tapi terasa menusuk.
**VI Retak yang Tidak Pernah Mereka Akui**
Bulan berikutnya, retak itu melebar. Laras mendapat kesempatan magang di media besar. Jadwalnya semakin kacau.
Ardan semakin sibuk memperluas kebun dan menangani pesanan sayuran.
Ketika mereka bicara, suara menjadi getas.
“Kenapa kamu nggak ngabarin?”
“Aku sibuk, Dan.”
“Kamu nggak punya lima menit?”
“Aku beneran capek…”
Kadang cinta tidak hilang.
Kadang cinta hanya kehabisan tenaga.
**VII A Time for Us—Jika Waktu Mau Memaafkan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
