Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda
Ilustrasi cerpen Pulang dalam Sujud-AI-
Ia sadar: selama ini ia bukan mengejar dunia, melainkan lari dari ketakutan untuk menetap. Ia takut pada tanggung jawab, takut pada luka, takut pada kehilangan. Maka ia memilih menjadi pengembara, mengira kebebasan adalah keselamatan.
Padahal kebebasan tanpa cinta adalah padang tandus.
*******
Keesokan paginya, Rangga mendatangi Siti.
“Ti, abdi bade angkat deui.”
Siti terdiam, lalu mengangguk pelan. “Kamana?”
“Teu terang. Tapi sanés pikeun lumpat. Abdi hoyong milari jalan nu leres.”
Siti menatapnya lekat. “Aa parantos mendakan hiji jalan.”
“Apa?”
“Uih ka Gusti.”
Rangga tersenyum, kali ini tanpa getir. “Doakeun abdi.”
Siti mengangguk. “Salawasna.”
Ia melangkah pergi menyusuri jalan desa yang basah. Di kejauhan, Cirebon terhampar samar di balik kabut pagi.
Namun kali ini, langkahnya tidak digerakkan oleh angin takdir yang liar, melainkan oleh kesadaran.
Ia mungkin tetap seorang pengelana.
Tetapi kini ia tahu: setiap perjalanan harus memiliki arah pulang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
