Disway Award

Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda

Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda

Ilustrasi cerpen Pulang dalam Sujud-AI-

Dua puluh tahun lalu, Rangga pergi tanpa pamit panjang. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Siti, berisi kalimat yang terlalu singkat untuk cinta yang begitu besar.

“Aku ingin melihat dunia, Ti. Jangan tunggu aku.”

Waktu itu ia merasa dunia terlalu luas untuk diabaikan. Ia ingin menjadi seseorang, apa pun artinya. Ia bekerja dari kota ke kota: Bandung, Jakarta, bahkan sampai pelabuhan di timur. Ia menjadi kuli angkut, sopir, penjaga gudang, apa saja. Ia bangga menyebut dirinya “pengelana”.

Namun setiap malam, ketika angin kota berdesir di sela gedung beton, ia selalu mendengar suara lain, seperti bunyi kincir angin yang berputar lambat di padang sepi.

Suara itu adalah nama Siti.

*******

Kini mereka duduk berdampingan di beranda, setelah salat magrib berjamaah di surau.

“Aa teu kantos nikah?” tanya Siti pelan.

Rangga menggeleng. “Hate abdi… siga aya nu katinggal.”

Siti tersenyum pahit. “Katinggal di dieu?”

Rangga tidak menjawab. Ia menatap ke arah sawah yang kini gelap.

“Siti parantos gaduh salaki?”

“Parantos.”

Jawaban itu singkat, tapi seperti petir menyambar di dada Rangga.

“Alhamdulillah,” katanya akhirnya, berusaha tersenyum.

“Anjeun terang,” lanjut Siti lembut, “anjeunna lalaki soleh. Guru madrasah. Anjeunna terang carita urang baheula.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: