Disway Award

Ramadhan, Media, dan Kesalehan yang Dipertontonkan

Ramadhan, Media, dan Kesalehan yang Dipertontonkan

Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya tayangan religi, melainkan pada etos yang melandasinya. Ketika tayangan Ramadhan lebih berfungsi sebagai pengalih perhatian daripada penggerak refleksi, maka yang terjadi bukan pendalaman iman, melainkan pengalihan energi spiritual. Kita merasa sudah “cukup religius” hanya dengan menonton, bukan dengan menjalani.

Harapan saya sederhana, sekaligus berat: agar media tidak hanya menjadikan Ramadhan sebagai etalase kesalehan, tetapi sebagai ruang syiar yang berkelanjutan. media memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk kesadaran publik. Di tengah banjir informasi dan distraksi digital, media seharusnya berani mengambil sikap proaktif: menghadirkan program yang mencerahkan, mendewasakan, dan menghormati keragaman.

Menjaga kesucian Ramadhan bukan berarti menutup ruang hiburan, tetapi memastikan hiburan tidak mengosongkan makna. Bukan pula memonopoli kebenaran, melainkan mengembangkan toleransi, empati, dan penghormatan terhadap perbedaan. Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya milik umat Islam, tetapi bagian dari lanskap sosial Indonesia yang majemuk.

Jika media sungguh ingin “insaf”, maka keinsafan itu tidak berhenti pada perubahan format sementara. Ia harus menjelma menjadi etika penyiaran, keberanian editorial, dan komitmen jangka panjang. Sebab kesalehan yang sejati tidak lahir dari tontonan, melainkan dari kesadaran. Dan kesadaran tidak tumbuh dari komodifikasi, melainkan dari kejujuran makna.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: