Sayembara Mencari Ijazah, atau Mencari Panggung?

Kamis 20-08-2026,11:40 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Kalau benar ada bukti kuat tentang pelanggaran hukum, silakan buka. Kalau benar ijazah bermasalah, buktikan. Kalau benar ada pelanggaran konstitusi, tempuh mekanisme konstitusional. Kalau benar ada alasan untuk memberhentikan wakil presiden, gunakan mekanisme yang tersedia.

Tetapi kalau semua itu belum terbukti, mungkin ada baiknya kita memberi ruang kepada pemerintahan untuk bekerja. Karena pemerintahan yang terus-menerus diganggu oleh perang opini juga tidak akan mudah bekerja.

Dan yang akhirnya membayar ongkos kegaduhan itu bukan Denny, bukan Gibran, bukan para komentator televisi, bukan pula para influencer. Yang membayar adalah rakyat.

Rakyat membutuhkan pemerintah yang bekerja. Bukan pemerintah yang setiap pagi harus sibuk menjawab tuduhan baru.

“Di mana kedewasaan politik kita?”  

Kita membutuhkan oposisi yang kritis, bukan oposisi yang kehabisan agenda lalu mencari-cari persoalan. Kita membutuhkan akademisi yang tajam, bukan akademisi yang menjadikan setiap perbedaan sebagai perang pribadi. Kita membutuhkan ahli hukum yang membawa masyarakat kepada hukum, bukan membawa hukum ke panggung keributan.

Dan kita membutuhkan media yang menguji fakta, bukan sekadar memperpanjang kegaduhan. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar bukan: “Di mana ijazah Gibran?”

Tetapi: “Di mana kedewasaan politik kita?” Ijazah dapat dicari. Dokumen dapat diperiksa. Bukti dapat diuji. Hukum dapat ditegakkan. Tetapi waktu pemerintahan yang terbuang karena kegaduhan tidak bisa dikembalikan.

Pilpres 2029 memang akan datang. Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk mempersiapkan perang 2029, kita lupa bahwa rakyat sedang hidup pada 2026.

Rakyat tidak makan janji Pilpres 2029. Rakyat membutuhkan pekerjaan hari ini. Rakyat membutuhkan pelayanan publik hari ini. Rakyat membutuhkan sekolah yang baik hari ini. Rakyat membutuhkan rumah sakit yang layak hari ini. Rakyat membutuhkan harga yang terjangkau hari ini. Karena itu, mari kita berhenti sebentar.

Yang salah kita kritik.Yang melanggar kita lawan. Yang terbukti bersalah kita proses. Tetapi yang belum terbukti, jangan dihukum dengan opini.

“Mencari Kebenaran, Atau Mencari Alasan Agar Seseorang Terus Tampak Salah”

Dan kepada para intelektual, termasuk mereka yang merasa dirinya berada di barisan kebenaran, ada satu nasihat sederhana: “Jangan terlalu sibuk membersihkan rumah orang lain sampai lupa memeriksa debu di ruang tamu sendiri.”

Sebab dalam politik, orang yang paling berbahaya bukan hanya mereka yang tidak mau dikritik. Kadang-kadang yang juga berbahaya adalah mereka “yang tidak pernah merasa perlu mengoreksi dirinya sendiri.”

Dan barangkali, sebelum menawarkan hadiah Rp100 juta untuk menemukan ijazah orang lain, kita semua termasuk para pengkritiknya perlu menawarkan hadiah yang jauh lebih mahal kepada diri sendiri: “kejujuran untuk bertanya apakah selama ini kita benar-benar sedang mencari kebenaran, atau hanya sedang mencari alasan agar seseorang terus tampak salah.”

Sebab demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang tidak pernah gaduh. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang “tahu kapan harus gaduh demi kebenaran, dan tahu kapan harus diam demi kepentingan rakyat

Kategori :