Sayembara Mencari Ijazah, atau Mencari Panggung?

Kamis 20-08-2026,11:40 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Saya justru ingin bertanya kepada kita semua, termasuk kepada siapa pun yang terus-menerus mempersoalkan Gibran: Sudahkah kita memeriksa diri sendiri? Bukan hanya memeriksa ijazah orang lain.

Sudahkah kita bersih dari kepentingan politik? Sudahkah kita benar-benar objektif? Sudahkah kita mampu menerima kemungkinan bahwa orang yang kita kritik ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan?

Dan yang paling penting: kalau suatu hari semua tuduhan itu tidak terbukti, apakah kita juga mempunyai keberanian untuk mengatakan, “Saya keliru”? Pertanyaan terakhir inilah yang sering hilang dalam politik.

Kita sangat mudah mengatakan, “Saya benar.” Tetapi jarang yang berani mengatakan, “Ternyata saya salah.”

Padahal kebesaran seorang intelektual bukan hanya terlihat dari kemampuannya membongkar kesalahan orang lain. Kebesaran intelektual justru tampak ketika ia mampu membongkar kesalahan dirinya sendiri.

Sebab manusia yang merasa dirinya selalu benar biasanya sedang berada dalam bahaya. Ada satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting.

Mengapa Mas Wapres selalu Jadi Target

Sebesar apa sebenarnya pengaruh Gibran terhadap kontestasi Pilpres 2029 sehingga sejak awal masa jabatannya ia seperti tidak pernah dibiarkan bekerja dengan tenang?

Belum selesai satu isu, muncul isu lain. Belum selesai satu perdebatan, datang perdebatan berikutnya. Bahkan jabatan wakil presiden pun sudah berkali-kali dibawa ke wacana pemakzulan. 

Padahal mekanisme pemberhentian wakil presiden bukanlah permainan media sosial. Ia memiliki jalur dan prosedur konstitusional yang serius.

Lalu kita bertanya: mengapa begitu banyak energi politik dicurahkan kepada seorang wakil presiden?

Apakah benar karena persoalan hukum? Atau karena bayangan Pilpres 2029 sudah terlalu cepat masuk ke kepala para pemain politik?

Kalau memang Gibran dianggap tidak mampu, biarkan kinerjanya yang berbicara. Kalau kebijakannya buruk, kritik kebijakannya. Kalau program pemerintah gagal, bongkar kegagalannya. Kalau ada pelanggaran hukum, bawa bukti dan tempuh jalur hukum.

Tetapi jangan setiap hari membangun panggung politik dari dugaan, prasangka, dan serpihan informasi.

Sebab kalau begitu, rakyat akhirnya tidak tahu mana persoalan hukum, mana persoalan politik, dan mana sekadar pertunjukan.

Indonesia sudah terlalu banyak masalah yang benar-benar membutuhkan energi kita. Kemiskinan. Pengangguran. Pendidikan. Kesehatan. Korupsi. Ketimpangan. Harga kebutuhan pokok. Kualitas birokrasi. Investasi. Pembangunan daerah. Dan masih banyak lagi.

Kategori :