“Saya rasa… iya.”
Rahman mengangguk.
“Kalau begitu, pergilah.”
“Kenapa?”
“Karena rasa bersalah itu adalah tanda bahwa kamu masih hidup. Jangan hilangkan itu.”
Pemuda itu berdiri perlahan. Ia menatap Rahman sekali lagi.
“Pak… boleh saya kembali besok?”
Rahman tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap trotoar yang basah.
“Kalau kamu kembali,” katanya akhirnya, “datanglah bukan untuk menyelamatkan saya. Tapi untuk mendengarkan.”
Pemuda itu mengangguk.
Lalu ia pergi.
Langkahnya perlahan, seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa dunia tidak sesederhana yang ia kira.
Rahman kembali bersandar. Hujan telah berhenti. Tapi dingin masih tinggal.
Ia menatap jalanan.
Orang-orang masih lewat. Masih sibuk. Masih terburu-buru.
Arena sosial itu tetap riuh.