“Kalau begitu… apa yang masih membuat Bapak bertahan?”
Rahman membuka matanya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan harapan. Tapi juga bukan keputusasaan.
“Saya ingin melihat… apakah dunia ini suatu hari akan belajar mendengarkan.”
Pemuda itu tersenyum kecil. “Dan kalau tidak?”
Rahman mengangkat bahu.
“Setidaknya saya sudah tidak lagi berpura-pura bahwa ia pernah mendengar.”
Seorang wanita lewat. Ia melirik sekilas ke arah mereka, lalu mempercepat langkahnya.
Pemuda itu melihat ke arah itu, lalu kembali ke Rahman.
“Pak… kalau saya pergi sekarang, apakah Bapak akan baik-baik saja?”
Rahman tertawa kecil.
“Pertanyaan itu lucu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak benar-benar bertanya tentang saya. Kamu bertanya tentang dirimu sendiri, apakah kamu akan merasa bersalah kalau pergi.”
Pemuda itu terdiam. Kali ini lebih lama.
“Jawab saja,” kata Rahman.
Pemuda itu menatapnya. Dalam.