Pemuda itu menghela napas. “Jadi kita semua egois?”
“Bukan,” Rahman menggeleng pelan. “Kita semua takut.”
“Takut?”
“Takut melihat diri kita di orang lain.”
Pemuda itu terdiam lama.
Rahman melanjutkan, “Ketika kamu melihat saya di sini, apa yang kamu lihat?”
Sejenak pemuda itu ragu menjawab. Tapi akhirnya ia berkata, jujur:
“Seseorang yang… kalah.”
Rahman mengangguk. “Itulah yang kamu takuti. Bukan saya. Tapi kemungkinan bahwa kamu bisa menjadi saya.”
Hujan mulai mereda. Lampu jalan masih berkedip, seperti dunia yang tidak pernah benar-benar stabil.
“Pak…” suara pemuda itu lebih pelan sekarang. “Apa Bapak menyesal?”
Rahman memejamkan mata. Lama. Sangat lama.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Saya hanya kecewa.”
“Bedanya?”
“Penyesalan adalah keinginan untuk mengubah masa lalu. Kekecewaan adalah kesadaran bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar milik kita.”
Pemuda itu menatap Rahman, mencoba memahami, tapi mungkin belum mampu.