Begitulah manusia, pikirnya. Satu sentuhan, dan keseimbangan berubah.
“Ayah,” Cikal berkata lagi, “kalau kita jaga pohon-pohon ini, hujan nggak akan marah kan?”
Amran mengusap kepala anaknya.
“Hujan tidak pernah benar-benar marah. Ia hanya datang ketika waktunya tiba. Tapi kalau kita menjaga bumi, hujan akan menjadi berkah, bukan bencana.”
Cikal mengangguk, seolah menyimpan kalimat itu sebagai rahasia kecil.
**********Malam itu, radio tua kembali menyala. Lagu yang sama diputar ulang. Tentang hujan yang jatuh dan masa depan yang dipertanyakan. Tentang dunia yang membutuhkan tangan-tangan yang peduli.
Amran berdiri di jendela.
Langit kini cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu, seperti harapan yang enggan padam.
Ia tahu ia bukan ilmuwan besar. Bukan aktivis yang turun ke jalan membawa spanduk. Ia hanya guru. Ayah. Warga biasa.
Tapi mungkin perubahan memang dimulai dari hal kecil.
Dari cara ia mengajar. Dari cara ia menjawab pertanyaan Cikal. Dari keputusan untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan. Dari keberanian menanam satu pohon, lalu dua.
Hujan mungkin akan turun lagi esok hari.
Mungkin lebih deras.
Mungkin lebih lama.
Namun selama masih ada orang yang mendengarkan suara air yang jatuh dan bertanya, apa yang bisa kita lakukan, dunia belum sepenuhnya hilang.
Di luar, angin berdesir lembut.