Ketika Hujan Mengingatkan Dunia

Rabu 01-07-2026,09:15 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP Untirta

 

Hujan turun tanpa suara.

Seperti seseorang yang terlalu sering kecewa, ia tak lagi merasa perlu mengetuk jendela. Ia hanya jatuh. Perlahan. Merata. Dan entah mengapa, setiap kali hujan datang seperti ini, Amran merasa dunia sedang mengulang sesuatu yang tak pernah selesai.

Radio tua di sudut ruang masih menyala. Suara penyiar terdengar samar, lalu mengalun lagu lama yang pernah ia dengar di masa remaja, tentang hujan yang jatuh dan dunia yang retak oleh keserakahan manusia. Tentang masa depan yang tak pasti, tentang bumi yang kelelahan.

Amran memejamkan mata.

Ia membayangkan bumi sebagai tubuh yang letih. Sungai-sungai yang dulu jernih kini keruh. Hutan yang dulu hijau kini menjadi nama-nama proyek. Udara yang dulu bersih kini seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Hujan turun lagi.

Dan setiap tetesnya seperti mengetuk kesadaran: ada yang salah, dan kita tahu itu.

*******

Di beranda rumah kecilnya, Amran menyalakan rokok. Asap tipis menyatu dengan kabut sore. Di seberang jalan, anak-anak kecil berlarian di bawah hujan. Mereka tertawa, tak peduli pada langit yang murung.

Anaknya, Cikal, berdiri di ambang pintu.

“Ayah, hujan ini marah ya?”

Amran tersenyum tipis. “Kenapa kamu bilang begitu?”

“Karena dia turun terus. Seperti nangis.”

Pertanyaan itu membuat dada Amran terasa seperti digenggam tangan kecil yang tak terlihat. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hujan kadang bukan hanya hujan. Bahwa ada musim yang berubah terlalu cepat, ada panas yang tak wajar, ada banjir yang datang di bulan-bulan yang dulu kering.

Kategori :