“Tidak,” katanya akhirnya. “Hujan cuma ingin mengingatkan.”
“Mengingatkan apa?”
Bahwa dunia tidak selamanya sabar.
Tapi kalimat itu hanya ia ucapkan dalam hati.
********Malam datang bersama gemuruh yang jauh. Televisi menyiarkan berita tentang badai di kota pesisir. Tentang ombak yang menelan rumah-rumah kayu. Tentang orang-orang yang kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.
Cikal tertidur di pangkuannya.
Amran menatap layar tanpa benar-benar melihat. Ia teringat masa kecilnya di kampung. Sungai yang dulu menjadi tempat ia belajar berenang kini tinggal parit coklat berbau limbah. Pohon mangga yang dulu memayungi halaman rumah orang tuanya ditebang untuk memperlebar jalan.
Semua dilakukan atas nama kemajuan.
Ia pernah bangga pada kata itu.
Kini ia ragu.
Hujan masih turun. Dan di sela suara air yang jatuh di atap seng, Amran merasa seperti mendengar detak jam raksasa yang menghitung mundur sesuatu.
********Keesokan harinya, langit tetap kelabu. Jalanan licin. Orang-orang berjalan lebih cepat, seakan takut ditelan cuaca.
Amran bekerja sebagai guru geografi di sebuah sekolah menengah. Hari itu ia berdiri di depan kelas, menggambar peta dunia di papan tulis.
“Anak-anak,” katanya pelan, “apa yang terjadi kalau es di kutub terus mencair?”
Beberapa tangan terangkat. Jawaban-jawaban ilmiah mengalir: permukaan laut naik, cuaca ekstrem, spesies punah.
Ia mengangguk.