“Dia sudah tiada.”
“Aku turut berduka.”
Ia tidak bertanya lebih jauh. Beberapa cerita tidak perlu dikuliti hingga ke tulang.
Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: pekerjaan, kota yang berubah, orang-orang yang pergi satu per satu. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada penyesalan yang ditumpahkan secara teatrikal. Semua terasa tenang, seperti danau yang menyimpan kedalaman tanpa perlu memamerkannya.
Saat hujan mulai reda, perempuan itu berdiri.
“Aku harus pergi,” katanya kalimat yang sama, bertahun-tahun lalu.
“Berapa lama kali ini?” tanyanya, dengan senyum tipis.
Perempuan itu menatapnya, dan untuk sesaat, mata pelangi itu memantulkan seluruh hidup yang tak pernah mereka jalani bersama.
“Tidak lama,” jawabnya. “Tidak juga sebentar. Tapi aku tahu sekarang: kita tidak saling kehilangan.”
Ia mengangguk. Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa benar.
Sebelum pergi, perempuan itu menoleh sekali lagi. Tatapan terakhir itu tidak menyimpan janji, tidak pula perpisahan mutlak. Hanya keheningan yang penuh, seperti lagu lama yang berhenti tepat sebelum nada terakhir, agar pendengarnya bisa membawanya pulang dalam hati.
Ketika perempuan itu menghilang di balik pintu keluar terminal, hujan benar-benar berhenti. Langit menyisakan warna pucat, seolah pelangi hanya sempat hadir sebentar, cukup untuk diingat.
Lelaki itu tetap duduk di bangku kayu, menyesap kopi yang telah dingin. Ia merasa ringan, seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban lama tanpa harus memusnahkannya.
Beberapa cinta tidak diciptakan untuk dimiliki, hanya untuk dilihat, dan dikenang.
Dan di dalam matanya sendiri, kini ada warna-warna baru. Tidak secerah dulu, tidak seberani dulu, tapi jujur.
Seperti pelangi yang hanya muncul setelah hujan, lalu menghilang, tanpa pernah benar-benar pergi.