Namun mata pelangi itu tidak pernah benar-benar pergi.
Kadang muncul di sela-sela malam, saat hujan mengetuk jendela. Kadang datang tiba-tiba di tengah keramaian, ketika seseorang tertawa dengan nada yang mirip. Mata itu selalu hadir tanpa suara, tanpa tuntutan—hanya menatap, seperti bertanya: apakah kau masih ingat siapa dirimu ketika mencintaiku?
Kini, setelah bertahun-tahun, ia kembali ke terminal itu. Tidak ada undangan. Tidak ada kepastian. Hanya dorongan aneh, seperti dipanggil oleh sesuatu yang belum selesai.
Ia duduk di bangku kayu yang sama, memesan kopi hitam tanpa gula. Uapnya naik perlahan, bercampur dengan udara dingin. Di luar, bus datang dan pergi, membawa manusia-manusia dengan tujuan yang jelas. Ia satu-satunya yang tidak benar-benar ke mana-mana.
Lalu, tanpa pengumuman, perempuan itu muncul.
Tidak dramatis. Tidak seperti adegan film. Ia hanya berjalan pelan dari arah parkiran, membawa payung kecil berwarna gelap. Rambutnya kini lebih pendek, wajahnya menyimpan garis-garis halus yang lembut. Tapi matanya—Tuhan, matanya masih sama.
Mata pelangi.
Mereka saling memandang, dan lagi-lagi waktu melambat. Dunia di sekitar mereka meredup, seperti lampu yang diredupkan agar dua jiwa bisa melihat satu sama lain dengan lebih jujur.
“Kau masih di sini,” kata perempuan itu akhirnya.
“Aku selalu di sini,” jawabnya. Dan baru setelah kata-kata itu keluar, ia sadar bahwa itu bukan kiasan.
Mereka duduk berdampingan. Tidak bersentuhan. Tidak terburu-buru. Seperti dua orang yang tahu bahwa keheningan adalah bahasa yang lebih setia daripada kata-kata.
“Aku sering bermimpi tentang tempat ini,” ujar perempuan itu. “Dalam mimpiku, hujan selalu turun.”
“Mungkin karena hujan mengingatkan kita pada hal-hal yang belum selesai.”
Perempuan itu tersenyum kecil. Senyum yang tidak berusaha menutupi luka, hanya menerimanya.
“Aku menikah,” katanya.
“Aku tahu.”