Awas! "Pujian Merendahkan" dari Teman Ternyata Red Flag Parah, Ini Alasannya

Minggu 22-03-2026,07:17 WIB
Reporter : Lala Nabilah Chandra
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID– Seringkali kita merasa senang saat mendapatkan pujian dari teman dekat. Namun, pernahkah Anda merasa ada yang "mengganjal" di balik kata-kata manis tersebut?

Sebuah unggahan viral dari platform edukasi psikologi, fenomena ini menyoroti teman yang memberikan pujian namun sebenarnya mengandung penghinaan terselubung atau yang dikenal sebagai backhanded compliments.

Dalam unggahan tersebut, diperlihatkan contoh percakapan yang tampak seperti pujian namun sebenarnya sangat merendahkan, seperti:

• "Ternyata lo cakep ya kalau pakai make-up."
• "Orang kaya lo ternyata bisa sukses ya, gak nyangka deh!"

BACA JUGA:Tradisi Bersih-Bersih Rumah Jelang Lebaran, Bukan Sekadar Rapi tapi Sarat Makna

BACA JUGA:Lebaran Anti-Ribet! 4 Tinted Sunscreen Niacinamide untuk Hasil Glass Skin tanpa Foundation

Mengapa Ini Disebut Red Flag?

Meskipun dibungkus dengan nada bicara yang ramah atau candaan, jenis pujian seperti ini sering kali menjadi indikator hubungan yang tidak sehat. Berikut adalah beberapa alasan mengapa hal ini berbahaya:

• Merendahkan Harga Diri: Kalimat tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa tanpa faktor X (seperti make-up), Anda tidak cukup baik.

•  Bentuk Manipulasi: Sering kali digunakan untuk membuat seseorang merasa inferior atau kecil hati di tengah keberhasilan mereka.

BACA JUGA:Mau Kue Kering ala Bakery Mewah? Gunakan 5 Susu Bubuk Full Cream Pilihan Ini

BACA JUGA:Miring Kanan atau Kiri? Ini Posisi Tidur yang Lebih Sehat dan Nyaman untuk Tubuh

• Ketidaktulusan: Pujian ini menunjukkan bahwa teman tersebut mungkin memiliki rasa iri atau ketidaknyamanan terhadap kemajuan Anda.

Cara Menghadapinya

Para ahli psikologi menyarankan agar kita mulai sadar (self-aware) terhadap pola komunikasi dalam lingkaran pertemanan.

Jika seseorang terus-menerus memberikan "pujian" yang membuat Anda merasa buruk tentang diri sendiri, itu adalah tanda nyata untuk mengevaluasi kembali batasan (boundaries) dalam pertemanan tersebut.

"Lho, kok bisa?" menjadi pertanyaan pemantik bagi audiens untuk lebih kritis. Hubungan yang sehat seharusnya didasari oleh dukungan tulus, bukan validasi yang disertai dengan menjatuhkan.

Kategori :