Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda

Sabtu 07-03-2026,17:52 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Teu terang. Tapi sanés pikeun lumpat. Abdi hoyong milari jalan nu leres.”

Siti menatapnya lekat. “Aa parantos mendakan hiji jalan.”

“Apa?”

“Uih ka Gusti.”

Rangga tersenyum, kali ini tanpa getir. “Doakeun abdi.”

Siti mengangguk. “Salawasna.”

Ia melangkah pergi menyusuri jalan desa yang basah. Di kejauhan, Cirebon terhampar samar di balik kabut pagi.

Namun kali ini, langkahnya tidak digerakkan oleh angin takdir yang liar, melainkan oleh kesadaran.

Ia mungkin tetap seorang pengelana.

Tetapi kini ia tahu: setiap perjalanan harus memiliki arah pulang.

Dan pulang yang sejati bukanlah pada seseorang, bukan pula pada kampung halaman, melainkan pada hati yang berdamai dengan Tuhan.

Di belakangnya, azan dhuha berkumandang pelan dari surau kecil.

Rangga berhenti sejenak, menoleh ke langit, lalu berbisik,

“Ya Allah, abdi capé janten tentara nasib. Ayeuna abdi hoyong janten hamba-Mu.”

Langkahnya kembali bergerak.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa sendirian

Kategori :