Disway Award

Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda

Pulang dalam Sujud: Taubat Seorang Pengembara di Tanah Sunda

Ilustrasi cerpen Pulang dalam Sujud-AI-

Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

INFORADAR.ID - Langit senja di kaki Gunung Ciremai memerah seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Angin dari sawah berembus perlahan, menggerakkan daun padi yang menguning. Dari kejauhan terdengar azan magrib bersahut-sahutan dari surau kecil di Kampung Cisantana.

Di beranda rumah panggung yang sudah renta, seorang lelaki berusia hampir empat puluh duduk bersandar pada tiang kayu. Namanya Rangga. Rambutnya mulai memutih di pelipis, padahal langkahnya masih tegap seperti pengelana yang terbiasa berjalan jauh.

Ia kembali ke tanah kelahirannya setelah dua puluh tahun mengembara.

Ibunya telah wafat setahun lalu. Rumah itu kini kosong, kecuali kenangan yang seperti kincir angin tak terlihat terus berputar dalam kepalanya.

*****

“Aa Rangga?”

Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan berdiri di pagar bambu, mengenakan kerudung putih dan kain batik sederhana. Wajahnya teduh, tapi matanya menyimpan kejutan.

“Neng Siti…” gumam Rangga lirih.

Perempuan itu tersenyum kecil. “Sanes ngimpi, nya? Ini benar Aa?”

Rangga tertawa hambar. “Upami ieu ngimpi, mugia ulah gancang hudang.”

Siti melangkah mendekat. “Kunaon teu aya béja? Tiba-tiba parantos aya di lembur.”

“Abdi… teu yakin kedah uih,” jawab Rangga pelan. “Sakedik-sakedik, angin sok nyeret deui ka jalan.”

Siti terdiam. Di antara mereka, senja menggantung seperti pertanyaan yang belum dijawab.

******

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: