Kronologi Temuan Virus Nipah di India dan Statusnya di Indonesia

Sabtu 07-02-2026,22:49 WIB
Reporter : Nuraini Wildayati Kamilah
Editor : Haidaroh

‎Hasil investigasi epidemiologi mencatat sebanyak 196 kontak erat telah teridentifikasi. Seluruh kontak tersebut dikarantina, dipantau secara ketat, dan menjalani pemeriksaan laboratorium dengan hasil negatif. 

‎Kemungkinan faktor risiko penularan meliputi kontak dengan individu terinfeksi atau paparan dari kelelawar, termasuk konsumsi buah yang terkontaminasi.

‎Kronologi Kejadian Kasus 1 dan Kasus 2 Virus Nipah di India

  • ‎14-17 Desember 2025 : Kasus 1 memiliki riwayat perjalanan ke Distrik Nadia (berbatasan langsung dengan Bangladesh)
  • ‎20-21 Desember 2025: Kasus 1 dan 2 saling kontak saat bekerja bersama di RS swasta di Barasat, Distrik 24 North Parganas
  • ‎27 Desember 2025: Kasus 2 mulai bergejala demam dan menggigil
  • ‎30 Desember 2025: Kasus 1 mulai bergejala batuk
  • ‎4 Januari 2026: Kasus 1 kehilangan kesadaran, kemudian dirawat di RS subdistrik dan selanjutnya dirujuk ke Medical College Hospital. Sedangkan kasus 2 mulai dirawat di RS Barasat
  • ‎6 Januari 2026: Kasus 1 tidak mengalami perbaikan dan dirujuk ke RS Basarat
  • ‎13 Januari 2026: Hasil pemeriksaan RT PCR di National Insitute for Virology Pune: positif virus Nipah untuk kasus 1 dan kasus 2
  • ‎21 Januari 2026: Kasus 2 masih dalam kondisi kritis dan menggunakan ventilasi. Sedangkan kasus 2 masih dalam perawatan (kondisi perbaikan)

‎Respon India dan WHO untuk kejadian di West Bengal 2026

‎Sebagai respons, pemerintah India mengaktifkan Tim Respon Wabah Gabungan Nasional untuk mendukung pengawasan, pengujian, serta penyelidikan epidemiologi di West Bengal.

Pemerintah pusat juga memberikan dukungan teknis, logistik, dan operasional, serta mengaktifkan Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) di National Center for Disease Control (NCDC).‎

‎Pengawasan diperketat di Distrik Purba Bardhaman, North 24 Parganas, dan Nadia, disertai pelacakan kontak, karantina selama 21 hari bagi kontak erat, serta penerapan langkah-langkah pencegahan penyebaran lanjutan. Pemerintah juga menerbitkan pedoman komprehensif, membuka layanan call center, dan mengimbau masyarakat tetap waspada tanpa panik.

‎India turut melakukan penilaian risiko awal dengan tingkat risiko dikategorikan moderat dan tingkat kepercayaan rendah hingga moderat. 

‎Survei terhadap kelelawar di Distrik Kolkata menunjukkan tidak adanya infeksi aktif berdasarkan pemeriksaan PCR, meski ditemukan satu kelelawar dengan antibodi positif akibat paparan di masa lalu. Survei lanjutan direncanakan di Distrik Nadia.

‎WHO menilai risiko penularan dari manusia ke manusia dapat diminimalkan berkat tatalaksana kasus, pelacakan kontak, dan penerapan pencegahan serta pengendalian infeksi (PPI).

‎Namun, kemungkinan penularan dari hewan ke manusia masih tetap ada. WHO juga tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan dari India.‎

Kasus virus Nipah di Indonesia

‎Hingga saat ini, tidak terdapat kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia.

‎Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada dengan menghindari kontak dengan hewan berisiko seperti kelelawar, babi, dan kuda, serta tidak mengonsumsi nira mentah yang berpotensi terkontaminasi.

‎Masyarakat juga dianjurkan mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, membuang buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, mengonsumsi daging hingga matang, serta menerapkan protokol kesehatan.

‎Bagi pelaku perjalanan dari India atau negara terjangkit, disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala dalam 14 hari setelah kepulangan.

Kategori :