Politik Kekalahan dan Humor Pelampiasan
Tidak bisa dipungkiri, komedi politik pasca-kontestasi sering berfungsi sebagai katarsis kolektif bagi mereka yang kalah. Tertawa menjadi mekanisme bertahan. Namun hermeneutika mengingatkan: katarsis pribadi yang dipertontonkan di ruang publik akan selalu memiliki efek sosial.
Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik deliberatif, ruang di mana komunikasi bertujuan pada saling pengertian, bukan sekadar ekspresi emosi. Humor yang lahir dari dendam politik, lalu diproduksi massal melalui media digital, justru merusak prasyarat deliberasi itu.
Alih-alih membuka dialog, ia menutup kemungkinan percakapan, yang ada hanya tawa sepihak dan kemarahan laten.
“Cari Makan” dan Etika Komunikasi
Komedi adalah profesi, dan profesi berhak atas penghidupan. Namun dalam etika komunikasi, tujuan ekonomi tidak pernah membatalkan tanggung jawab moral. Setiap komunikator publik, terutama yang memiliki pengaruh besar—memikul beban etik atas pesan yang ia sebarkan.
Dalam hermeneutika, bahasa bukan alat netral. Ia membentuk dunia. Ketika kebencian, sinisme, dan penghinaan dijadikan komoditas hiburan, maka yang diproduksi bukan sekadar tawa, melainkan normalisasi ketidakpedulian etis.
Masyarakat lalu belajar bahwa menghina boleh, asal lucu. Menghasut sah, asal dibungkus satire. Ini bukan kemajuan demokrasi, melainkan kemunduran budaya berbahasa.
Mawas Diri Kolektif
Esai ini bukan seruan pembungkaman. Komedi tetap perlu, kritik tetap penting. Namun hermeneutika komunikasi mengajarkan satu hal mendasar: berbahasa adalah bertanggung jawab atas dunia yang kita bangun bersama.
Mawas diri perlu dilakukan oleh: 1. Komika, agar sadar bahwa kecerdasan verbal adalah amanah, bukan senjata; 2. Audiens, agar tidak menertawakan penghinaan hanya karena sejalan dengan preferensi politik; 3. Media, agar tidak memonetisasi konflik simbolik demi klik dan trafik.
Demokrasi tidak runtuh oleh kritik, tetapi oleh bahasa yang kehilangan etika.
Tertawa Tanpa Merusak Makna
Indonesia membutuhkan humor yang membebaskan, bukan yang memperdalam luka. Tertawa seharusnya membuka jarak reflektif, bukan menutup nurani. Dalam masyarakat majemuk, kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan kedewasaan menafsirkan dampak ujaran.
Jika hari ini kita merasa bebas menghina atas nama komedi, barangkali yang sedang kita kehilangan bukan kebebasan, melainkan kebijaksanaan berbahasa.
Dan hermeneutika mengingatkan kita: bahasa yang kehilangan makna etis, pada akhirnya akan kehilangan legitimasi sosialnya.