Kedua sosok menyeramkan itu tidak mengejar Biyan dan Pak Wawan. Namun, Biyan sekuat tenaga tetap memapah Pak Wawan agar bisa menjauh dari warung di dalam Alas Roban. Agar cepat sampai ke bus.
Penglihatan Biyan, mereka dikejar beberapa hantu Pocong dan Kuntilanak. Pocong dan Kuntilanak ini terbang di antara pohon-pohon di Alas Roban.
Di belakang Biyan dan Pak Wawan, 5 bocah dengan kondisi badan tidak utuh ikut mengejar. Kelima hantu bocah ini sebelumnya dilihat oleh Biyan saat perseneling bus macet.
Pak Wawan hampir menyerah. Dia enggan berlari lagi. Dia sudah tidak kuat menahan sakit di kakinya.
“Wes lah, aku pasrah. Ora opo-opo dipangan setan (Sudah lah, aku pasrah. Tidak apa-apa dimakan setan),” Pak Wawan terengah-engah.
Biyan memberikan semangat. Mereka akhirnya sampai di pinggir jalan.
Perbaikan perseneling bus ternyata sudah rampung. Bus berjalan pelan. Hendak meninggalkan Biyan dan Pak Wawan.
Biyan langsung berlari. Berusaha mengejar bus. Pak Wawan ditinggal sendirian.
Biyan berteriak-teriak. Bus tetap melaju. Biyan akhirnya mengambil batu di pinggir jalan. Melemparkannya ke badan bus.
Bus berhenti. Kernet turun menghampiri Biyan.
“Sampeyan nang ngendi to, Mas. Tak goleki ora ketemu-ketemu (Kamu dari mana, Mas. Saya cari enggak ketemu-ketemu),” kata kernet bus kesal.
Biyan tidak menanggapinya. Dia berjalan menjauhi bus. Dia menjemput Pak Wawan.
Biyan kembali memapah Pak Wawan. Mereka berjalan menuju bus yang berhenti. Jaraknya lumayan. Ada lah 15 meter.
Ketika berjalan, sesekali Biyan menoleh ke belakang. Dia melihat Pocong, Kuntilanak, dan 5 bocah yang badannya tidak utuh itu hanya berdiri di pinggir jalan. Tidak mengejar mereka lagi.
Biyan, Pak Wawan, dan kernet masuk ke dalam bus. Biyan dan Pak Wawan kena marah karena pergi tanpa izin.
Biyan dan Pak Wawan pun menceritakan kejadian menyeramkan yang baru saja mereka alami. Mereka bercerita kepada sopir dan awak bus lain ketika bus belum berjalan.