Disway Award

Cerpen Monolog: Suara yang Tak Pernah Didengar

Cerpen Monolog: Suara yang Tak Pernah Didengar

Ilustrasi Cerpen Suara yang Tak Pernah Didengan-Istock.com/Benjavisa-

Oleh:  Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta  

 

Pada mulanya adalah diam. Bukan diam sebagai ketiadaan, melainkan diam sebagai kondisi paling purba dari ada. Ia merasakannya setiap kali terjaga di tengah malam, ketika dunia seolah berhenti menuntut apa pun darinya. Dalam diam itu, ia tidak sedang sendirian, ia sedang berhadapan dengan dirinya sendiri.

Martin Heidegger pernah menyebut manusia sebagai Dasein ada di dunia. Bukan sekadar makhluk yang hidup, melainkan makhluk yang sadar bahwa ia ada. Namun kesadaran itu tidak selalu membawa ketenteraman. Justru di sanalah kegelisahan bermula.

Ia duduk di kamar sempitnya, lampu meja menyala temaram. Dinding-dinding memantulkan bayangannya sendiri, seolah menegaskan bahwa ia sungguh hadir secara fisik, tetapi belum tentu bermakna secara eksistensial. Ia bertanya, bukan dengan suara, melainkan dengan keberanian yang samar:

Apa artinya ada, jika keberadaanku tak pernah sungguh disapa?

Di luar, kota hidup dalam kebisingan yang konstan. Mesin, klakson, iklan, dan layar digital berpadu membentuk simfoni yang tak pernah selesai. Namun kebisingan itu aneh, ia bukan tanda kehidupan yang penuh, melainkan penutup dari kehampaan yang tak ingin dihadapi.

Heidegger menyebut kondisi ini sebagai das Man manusia yang larut dalam “orang kebanyakan”. Hidup menurut arus, berbicara menurut kebiasaan, berpikir menurut tren. Semua tampak wajar, normal, bahkan aman. Tetapi di balik kewajaran itu, manusia kehilangan dirinya sendiri.

Setiap pagi, ia berjalan menyusuri jalan yang sama. Orang-orang berpapasan tanpa benar-benar bertemu. Mata mereka menunduk, terpaku pada layar kecil yang memantulkan cahaya dingin. Di sanalah dunia direduksi menjadi notifikasi, angka, dan citra.

Jean-Paul Sartre pernah berkata bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”. Kebebasan itu bukan hadiah yang menyenangkan, melainkan beban. 

Karena bebas berarti bertanggung jawab atas pilihan, atas makna, atas diri sendiri. Maka banyak orang memilih lari, menyembunyikan kebebasan di balik rutinitas dan keramaian. Ia melihat itu setiap hari: manusia yang berbicara agar tak perlu berpikir, manusia yang mendengar agar tak perlu memahami.

Ia sendiri pernah percaya pada bahasa. Ia yakin kata-kata bisa menjadi jembatan antar-kesadaran. Ia berbicara tentang kecemasan, tentang kegelisahan, tentang rasa asing yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya. Namun kata-katanya sering jatuh tanpa gema.

Sartre menyebut relasi manusia sebagai arena konflik kesadaran. Setiap orang ingin diakui, tetapi takut kehilangan kendali. Maka percakapan berubah menjadi monolog yang saling bersilang. Semua ingin didengar, tak seorang pun sungguh hadir.

Di kafe-kafe, ia melihat pasangan duduk berhadapan tanpa perjumpaan. Bibir bergerak, tetapi mata menghindar. Kehadiran fisik tak lagi menjamin kehadiran eksistensial. Kesepian tidak lahir dari ketiadaan orang lain, melainkan dari ketiadaan makna.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: