Cerpen Monolog: Suara yang Tak Pernah Didengar
Ilustrasi Cerpen Suara yang Tak Pernah Didengan-Istock.com/Benjavisa-
Ia menyadari sesuatu yang pahit: kesepian adalah pengalaman ontologis, bukan kondisi sosial semata.
Di rumah, ia menulis. Tulisan-tulisannya bukan pencarian ketenaran, melainkan perlawanan terhadap absurditas. Albert Camus menyebut absurditas sebagai benturan antara hasrat manusia akan makna dan dunia yang bungkam. Ia menulis karena dunia tidak menjawab.
Jika dunia tetap diam, pikirnya, apakah aku harus ikut diam? Ataukah justru berbicara adalah satu-satunya cara untuk menegaskan bahwa aku masih ada?
Ia tahu jawabannya. Camus tidak menawarkan penghiburan metafisik. Ia menawarkan pemberontakan sunyi: tetap hidup, tetap sadar, tetap mencipta makna, meski tahu bahwa makna itu rapuh dan sementara.
Suatu malam, listrik padam. Kota yang biasanya berisik mendadak lumpuh. Layar mati. Mesin berhenti. Cahaya buatan lenyap. Kegelapan turun, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai undangan.
Orang-orang keluar dari rumah. Awalnya canggung, lalu perlahan berbicara. Tanpa layar, tanpa perantara. Kata-kata terdengar tidak efisien, tidak sempurna, tetapi nyata.
Ia berdiri di tengah mereka dan merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan: kehadiran. Heidegger menyebut momen ini sebagai authenticity, ketika manusia tidak lagi larut dalam “orang kebanyakan”, melainkan hadir sebagai dirinya sendiri.
Untuk sesaat, dunia terasa mungkin. Namun keajaiban itu singkat. Listrik kembali menyala. Cahaya digital merebut kembali perhatian. Orang-orang kembali ke rumah, ke rutinitas, ke kebisingan yang familiar. Percakapan terputus. Kehadiran menguap.
Ia berjalan pulang dengan kesadaran yang lebih jernih: bukan dunia yang menolak makna, melainkan manusia yang takut memikulnya.
Di kamar, ia mematikan lampu. Duduk dalam gelap. Tidak untuk melarikan diri, tetapi untuk tinggal. Camus pernah menulis bahwa satu-satunya persoalan filsafat yang sungguh serius adalah bunuh diri, apakah hidup layak dijalani atau tidak.
Ia memilih hidup. Bukan karena hidup menjanjikan kebahagiaan, melainkan karena hidup memungkinkan kejujuran. Dalam kesunyian, ia mendengar pikirannya sendiri tanpa sensor. Tak ada ilusi, tak ada hiburan. Hanya ada dirinya dan pertanyaan yang tak selesai.
Ia mengerti kini:
eksistensi bukan tentang jawaban,
melainkan keberanian untuk tetap bertanya.
Jika dunia tidak mau mendengar, ia akan tetap berbicara—bukan untuk mengubah dunia, tetapi untuk menjaga integritas dirinya sendiri. Jika kesunyian datang, ia tidak lagi mengusirnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
