Banjir tak kunjung surut, Pengurus IMM sebut Kegagalan Pemerintah Daerah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Serang -Istimewa -
INFORADAR.ID - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Serang melayangkan kritik tajam terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang terkait bencana banjir yang tak kunjung surut.
Berdasarkan data resmi BPBD per 27 Januari 2026, ketinggian muka air di Kecamatan Carenang dan Binuang masih mencapai 100–120 cm.
Sekretaris Umum PC IMM Serang, Mugni, mengatakan bahwa kondisi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin kegagalan tata kelola pemerintah daerah. Ia menilai angka ketinggian air tersebut merupakan hasil dari akumulasi kelalaian pembangunan selama bertahun-tahun.
"Banjir di Kabupaten Serang bukan lagi peristiwa alam, melainkan peristiwa kegagalan pemerintah. Rakyat Carenang dan Binuang hari ini tidak sedang meminta belas kasihan, mereka sedang menagih akuntabilitas," kata Mugni dalam keterangan tertulisnya.
BACA JUGA:BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Banten 3 Harian, Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
BACA JUGA:Pengabdian Dosen dan Mahasiswa UNMA untuk Pandeglang: Aksi Nyata Tanggap Bencana Banjir
Mugni menambahkan bahwa Bupati Serang dinilai gagal membedakan antara kepemimpinan administratif dan kepemimpinan krisis.
Menurutnya, tidak ada langkah struktural seperti perbaikan drainase, penataan ruang, maupun normalisasi sungai yang dilakukan secara serius sebagai mitigasi jangka panjang.
Senada dengan hal tersebut, Bendahara Umum PC IMM Serang, Tubagus Eep Saepulloh Fatah, menyentil jargon "Serang Bahagia" yang sering digaungkan pemerintah.
Ia mengatakan slogan tersebut sangat kontradiktif dengan realitas penderitaan warga yang rumahnya terendam banjir setiap tahun.
"Serang disebut bahagia, tapi warganya tiap tahun kebanjiran. Air naik, penderitaan bertambah, sementara tanggung jawab pemerintah justru tenggelam," kata Tubagus Eep.
BACA JUGA:Gaji Guru Rp30 Juta: Mimpi Kesejahteraan atau Tantangan Baru Pendidikan Nasional?
BACA JUGA:Tren Hubungan Tanpa Status Bikin Mahasiswa Galau Brutal
Ia menekankan bahwa kebahagiaan warga tidak bisa diukur dari slogan semata selama banjir masih menjadi rutinitas tahunan yang melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
