Membaca Strategi Win-Win Solution Indonesia dalam Perundingan dengan Amerika Serikat
Komunikasi-Majom veldan-
INFORADAR.ID- Di penghujung April 2025, delegasi Indonesia mendarat di Washington D.C. bukan untuk berdebat, melainkan untuk menawarkan jalan tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto duduk bersama pejabat tinggi Amerika Serikat dan membentangkan proposal yang dirancang agar kedua negara merasa diuntungkan.
Mulai dari kesetaraan tarif dagang, investasi miliaran dolar di sektor energi bersih, hingga kerja sama mineral strategis.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan prinsip yang mendasarinya: Indonesia tidak datang untuk menang sendiri, melainkan agar keduanya menang bersama.
BACA JUGA:Senggolan Dikit Gak Langsung Perang: Trik Jitu Selesaikan Konflik Pakai Win-Win Solution!
BACA JUGA:Ketika Hijrah Jadi Tren: Antara Transformasi Spiritual dan Budaya Populer Digital
Lantas, apa hubungannya perundingan antarnegara itu dengan kehidupan kita sehari-hari? Ternyata sangat erat.
Prinsip yang dipakai di meja diplomatik Washington tidak berbeda dari yang kita butuhkan saat dua warga berselisih soal batas pagar.
Dua komunitas berbeda tradisi tinggal berdampingan, atau dua kelompok mahasiswa dari latar budaya berbeda saling salah paham di grup kelas.
Pertikaian antarbudaya hampir selalu
BACA JUGA:Catatan dari Den Haag: Mengamati Dua Wajah Ruang Publik antara Belanda dan Indonesia
BACA JUGA:Jari Lentik Berujung Konflik: Bahaya Clickbait pada Isu Agama di Era Digital
berakar dari hal yang sama: perbedaan yang tidak diberi ruang untuk dipahami. Sosiolog Alo Liliweri menjelaskan bahwa stereotip dan prasangka yang dibiarkan tanpa dialog adalah pemicu utama konflik antar kelompok.
Di era media sosial yang serba cepat, kondisi ini makin rentan dengan banyaknya sebuah unggahan yang salah tafsir bisa memantik ketegangan yang jauh lebih besar dari persoalan aslinya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: