Takut Salah Bicara di Forum Lintas Agama? Ini yang Sebenarnya Dialami Banyak Mahasiswa
Ilustrasi toleransi beragama.--Pinterest/Aleysharae
Oleh karena itu, forum lintas iman di kampus sebenarnya bukan hanya tempat bertukar pendapat, tetapi juga laboratorium sosial untuk belajar memahami perbedaan. Mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan sekadar soal berbicara, melainkan juga kemampuan membaca situasi, mengelola emosi, dan menghargai perspektif orang lain.
Moderator memiliki peran besar dalam kondisi seperti ini guna menjaga suasana agar tetap kondusif. Moderator yang menggunakan bahasa netral dan tidak menghakimi biasanya mampu membuat peserta lebih nyaman. Sebaliknya, moderator yang terlalu provokatif justru bisa meningkatkan ketegangan dalam forum.
BACA JUGA:Saat Identitas Menjadi Sumber Konflik, Siapa yang Menjembatani?
Pengalaman juga menjadi faktor penting. Mahasiswa yang sering mengikuti kegiatan lintas budaya atau lintas agama biasanya lebih percaya diri ketika berdiskusi. Mereka tidak terlalu takut salah bicara karena sudah terbiasa menghadapi perbedaan. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan kelompok berbeda, semakin kecil rasa cemas yang muncul.
Hal tersebut menunjukkan bahwa toleransi tidak muncul secara instan hanya melalui slogan atau kampanye di media sosial. toleransi tumbuh melalui pengalaman komunikasi yang nyata. Ketika seseorang terbiasa berdialog secara sehat, ia akan lebih mudah memahami bahwa perbedaan tidak selalu menjadi ancaman.
Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin plural dan aktif di ruang digital, kemampuan mengelola kecemasan komunikasi menjadi keterampilan penting bagi generasi muda. Bukan untuk menghilangkan perbedaan, tetapi agar perbedaan itu bisa dibicarakan tanpa saling menyerang.
Sebab banyak konflik bukan terjadi karena orang berbeda keyakinan, melainkan karena tidak tahu cara berkomunikasi dengan perbedaan itu sendiri.
Penulis: Nurunniyah
Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: