Disway Award

Peduli Lingkungan, Mahasiswa Rancang Alat Pemilah Sampah Otomatis

Peduli Lingkungan, Mahasiswa Rancang Alat Pemilah Sampah Otomatis

Tiga mahasiswa menunjukkan alat pemilah sampah otomatis hasil inovasi bersama.--

INFORADAR.ID - Berawal dari tugas mata kuliah, tiga mahasiswa bernama Muhammad Rafli Indra Raihan, Muhammad Hadzami, dan Azhar Ar-Rasyid Ramadhan berinisiatif mengembangkan sebuah alat pemilah sampah otomatis yang mampu membedakan sampah kering, basah, dan logam. Inovasi ini lahir dari kegelisahan mereka melihat kondisi pengelolaan sampah di lingkungan sekitar yang masih belum tertata dengan baik.

Muhammad Rafli Indra Raihan menjelaskan bahwa ide pembuatan alat tersebut muncul dari pengamatan sederhana terhadap kebiasaan masyarakat yang masih mencampur berbagai jenis sampah. “Kami melihat masih banyak sampah basah, kering, dan logam yang dibuang jadi satu. Padahal kondisi ini bikin proses daur ulang jadi jauh lebih sulit,” ujarnya.

Meski awalnya merupakan tugas akademik, Rafli bersama Muhammad Hadzami dan Azhar Ar-Rasyid Ramadhan sepakat untuk mengembangkan proyek ini secara lebih serius. Mereka menilai persoalan sampah bukan sekadar bahan penilaian perkuliahan, melainkan isu lingkungan yang nyata dan terus berkembang. “Kami pengin alat ini bukan cuma selesai di kelas, tapi juga punya manfaat nyata dan bisa dipakai di lingkungan masyarakat,” kata Hadzami.

Alat pemilah sampah otomatis yang mereka kembangkan bekerja dengan memanfaatkan beberapa sensor yang saling terintegrasi. Sensor kelembapan digunakan untuk mendeteksi sampah basah, IR sensor untuk mengidentifikasi sampah kering, serta sensor logam untuk mendeteksi material berbahan metal. Seluruh data dari sensor tersebut kemudian diproses oleh mikrokontroler yang akan menggerakkan mekanisme pemilah secara otomatis, sehingga sampah langsung masuk ke wadah sesuai kategorinya

Menurut Azhar Ar-Rasyid Ramadhan, rendahnya literasi masyarakat terkait kategori sampah memberikan dampak besar terhadap efektivitas daur ulang di Indonesia. Sampah yang tercampur membuat proses pemilahan lanjutan menjadi lebih mahal dan memakan waktu, bahkan tidak jarang menyebabkan sampah yang sebenarnya masih bisa didaur ulang justru berakhir di tempat pembuangan akhir.

Dalam proses pengerjaan, ketiganya mengaku menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi teknis. “Yang paling susah itu kalibrasi sensor supaya bisa akurat dan stabil. Koding juga sering error, jadi harus bolak-balik dicek,” ungkap Rafli. Selain itu, keterbatasan waktu, biaya, serta koordinasi antaranggota tim menjadi tantangan nonteknis yang harus mereka atasi bersama.

Meski demikian, mereka menilai alat pemilah sampah otomatis ini memiliki keunggulan dibandingkan metode pemilahan manual. Selain lebih efisien dan konsisten, alat ini mampu mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia serta meminimalkan kesalahan akibat faktor ketidaktelitian. Mereka juga melihat alat ini dapat berfungsi sebagai media edukasi bagi masyarakat agar lebih memahami pentingnya memilah sampah sejak dari sumber.

Ke depan, Muhammad Rafli Indra Raihan, Muhammad Hadzami, dan Azhar Ar-Rasyid Ramadhan menilai alat ini memiliki potensi untuk diterapkan di berbagai lingkungan, seperti sekolah, kampus, perkantoran, hingga fasilitas umum. Pendekatan teknologi dinilai mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah.

Mereka berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan, baik dari sisi akurasi sensor, kapasitas pemilahan, maupun integrasi dengan sistem berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan data sampah. “Kami berharap ada dukungan dari kampus, pemerintah, atau industri supaya alat ini bisa dikembangkan lebih lanjut dan benar-benar dimanfaatkan sebagai solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” pungkas Azhar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: