Film Animasi Merah Putih Hanya Raih 2.341 Penonton dalam Sepekan
Kontroversi film Merah Putih: One For All-Cinepolis Indonesia -YouTube
INFORADAR.ID - Satu minggu penayangan sejak rilis pada 14 Agustus 2025, film animasi Merah Putih hanya dapat meraup 2.341 penonton.
Informasi itu tercatat di laman Cinepoint, aplikasi pemantau box office film nasional dan internasional.
Walaupun sempat menarik rasa ingin tahu masyarakat, film animasi Merah Putih malah mendapat cukup banyak tanggapan bernada kritik.
Capaian tersebut bahkan menjadikannya salah satu film animasi lokal dengan jumlah penonton terendah tahun ini.
Sejak tayangan trailer perdananya muncul, film animasi Merah Putih sudah dinilai memiliki beberapa kekurangan dari segi teknis maupun tampilan visual.
BACA JUGA:Bau Oli di Sepatan Ganggu Warga, Pemkab Tangerang Didesak Bertindak
BACA JUGA:Erika Richardo, Si Pelukis di Balik Livery Special Garuda Indonesia HUT RI ke-80
Film Animasi Merah Putih Cepat Turun Layar dan Ramai Kritik
Hanya beberapa hari setelah tayang, jadwal pemutaran film ini mulai menghilang dari jaringan bioskop.
Pada Rabu 20 Agustus 2025, film animasi Merah Putih: One for All tinggal tersisa di satu layar bioskop XXI Puri, Jakarta.
Di area Jabodetabek lainnya, film tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Situasi serupa terjadi di kota besar seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya yang sebelumnya sempat menayangkannya.
Lalu pada hari Kamis 21 Agustus 2025 film ini sudah tidak lagi tertera di daftar penayangan XXI Jabodetabek, menandakan kemungkinan besar sudah turun layar.
Jika dihitung, total 2.341 penonton diperoleh dari 153 kali pemutaran hanya dalam enam hari, termasuk di beberapa jaringan bioskop Sam’s Studio.
Tak hanya capaian penonton yang mengecewakan, penilaian publik pun cenderung buruk.
BACA JUGA:Mulai 31 Desember 2025, RSUD Adjidarmo Berlakukan KRIS: Langkah Menuju Pelayanan Kesehatan Optimal
BACA JUGA:UKM TIKOM STKIP Syekh Manshur Gaungkan Literasi Digital di Tengah Gempuran Disrupsi Teknologi
Di IMDb, film ini hanya meraih bintang 1 dari pengguna. Kritik warganet umumnya menyoroti lemahnya pengerjaan teknis dan detail visual yang dianggap dikerjakan secara terburu-buru.
Bahkan, beberapa pengisi suara mengaku terkejut film tersebut bisa lolos tayang di layar lebar dengan banyak kekurangan yang masih terlihat jelas.
Meski mengusung judul yang sarat semangat nasionalisme, film animasi ini justru menjadi sorotan karena dianggap gagal menyajikan kualitas tontonan yang sepadan dengan harapan penonton.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
