Disway Award

Engkau yang Mewarnai Hidupku dengan Doa

Engkau yang Mewarnai Hidupku dengan Doa

Ilustrasi doa-Istock.com/Big_Ryan-

Aku ingin mengatakan bahwa justru ia yang melakukan itu padaku. Bahwa sebelum ia datang, hidupku adalah garis-garis hitam putih yang rapi namun kosong. Bahwa kehadirannya mengajarkanku melihat bukan hanya memandang. Tapi sekali lagi, kata-kata itu tertahan.

Ia naik ke kapal. Aku berdiri di dermaga, melambaikan tangan hingga kapal itu menjadi titik kecil di cakrawala.

Hari-hari kembali berjalan seperti semula. Namun kini, setiap kali aku melaut, aku merasa sedang membaca tafsir yang terbentang: ombak sebagai ayat kekuasaan, angin sebagai peringatan akan kefanaan, dan cakrawala sebagai janji Tuhan bahwa hidup selalu lebih luas dari luka manusia. Islam yang kupeluk terasa semakin membumi menyatu dengan pasir, air, dan kesabaran. 

 Aku kembali ke laut, ke jaring, ke rutinitas. Namun, ada yang berbeda. Aku mulai memperhatikan warna langit saat senja, nada biru yang berbeda di setiap jam, dan tawa anak-anak yang kini terasa lebih bermakna. Dunia tidak kembali menjadi putih.

Suatu sore, aku menemukan surat di meja kayu rumahku. Tulisan tangan Lila, sederhana.

Ia menulis bahwa ia baik-baik saja. Bahwa kota masih bising, tapi kini ia tahu ke mana harus kembali dalam ingatannya. Ia menulis bahwa warna tidak selalu harus hadir dalam wujud seseorang; kadang cukup sebagai kenangan yang mengajarkan kita untuk melihat dunia dengan cara baru.

Aku melipat surat itu dengan hati-hati.

Di timur, matahari tenggelam dengan warna oranye yang dalam, seperti janji yang tidak diucapkan namun dipahami. Aku berdiri di pantai, membiarkan angin laut menyentuh wajahku.

Duniaku telah diwarnai. Dan meski warna itu tidak lagi berdiri di sampingku, ia tinggal dalam cara aku memandang hidup, dalam kesunyian yang kini terasa penuh makna

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: