Disway Award

‎Bertani Ala Gen Z, Hidroponik Jadi Pilihan

‎Bertani Ala Gen Z, Hidroponik Jadi Pilihan

Potret Ima dan Sri saat bertani-Ima dan Sri for Inforadar-

INFORADAR.ID - Di tengah pesatnya urbanisasi dan semakin terbatasnya lahan pertanian, generasi Z mulai menghadirkan cara baru dalam dunia bercocok tanam.

Pertanian tak lagi selalu identik dengan sawah luas dan tanah berlumpur, melainkan bisa dilakukan secara praktis dan modern melalui sistem hidroponik. Metode tanam tanpa tanah ini kini menjadi pilihan Gen Z karena dinilai relevan dengan kondisi zaman, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan di wilayah perkotaan.


‎Hidroponik memanfaatkan air dan nutrisi sebagai media utama pertumbuhan tanaman. Sistem ini memungkinkan kegiatan bertani dilakukan di lahan sempit seperti halaman rumah, kosan, bahkan apartemen. Tak heran jika hidroponik banyak diminati oleh anak muda yang tinggal di perkotaan dan memiliki keterbatasan ruang.


‎Salah satu pelaku Gen Z yang menekuni hidroponik adalah Sri Wulandari, mahasiswi akhir Jurusan Biologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. Meski tidak berlatar belakang sebagai petani, Wulandari mengaku hidroponik menjadi bagian dari perjalanan akademiknya karena skripsinya berada di bidang hortikultura dengan sistem hidroponik.


‎“Sebagai Gen Z, yang melatarbelakangi saya menekuni hidroponik tentu karena sistemnya yang praktis, modern, dan relevan dengan kondisi sekarang. Ini muncul dari keresahan saya terhadap keterbatasan lahan pertanian, khususnya di wilayah perkotaan,” ujarnya saat diwawancara.


‎Menurutnya, hidroponik bukan hanya sekadar metode tanam, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan. Setiap tahunnya, lahan pertanian terus berkurang akibat pembangunan, sehingga dibutuhkan solusi alternatif agar masyarakat tetap bisa bertani dan memperoleh sayuran bergizi.


BACA JUGA:5 Tanaman Calathea Dari Termurah Hingga Termahal

BACA JUGA:MAN 2 Serang Gelar P5RA, Tanamkan Nilai Kemandirian dan Tanggung Jawab pada Siswa
‎Sri mengaku kegiatan menanam secara hidroponik memberikan kepuasan tersendiri. Melihat tanaman tumbuh subur menjadi pengalaman yang menyenangkan, meskipun tidak lepas dari tantangan.


‎“Tantangan utama ada pada menjaga kestabilan nutrisi dan konsistensi perawatan. Kalau tidak disiplin, pertumbuhan tanaman bisa terganggu. Tapi justru dari situ saya belajar lebih teliti dan bertanggung jawab,” jelasnya.


‎Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ima Maryam Mutoharoh, mahasiswi Program Studi Biologi UIN SMH Banten, yang menjadikan hidroponik sebagai hobi sekaligus implementasi ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

‎“Awalnya karena hobi dan ingin mengaplikasikan ilmu. Lingkungan tempat tinggal saya lahannya sempit, jadi teknik tanam biasa cukup sulit. Hidroponik jadi solusi karena bisa ditanam di mana saja tanpa butuh lahan luas,” ungkap Ima.


‎Ia menilai hidroponik sangat cocok bagi Gen Z yang tinggal di perkotaan, kosan, atau apartemen, namun tetap ingin berkegiatan produktif dan ramah lingkungan. Meski demikian, Ima mengakui bahwa hidroponik juga memiliki tantangan tersendiri.

BACA JUGA:Edukasi Bank Sampah Digital Tanamkan Kesadaran Baru soal Lingkungan di Kampung Ambon

BACA JUGA:Lalat Bikin Risih? Coba 8 Tanaman Hias Pengusir Lalat yang Aman dan Sehat

‎“Perawatannya harus selalu terkontrol, mulai dari nutrisi, suhu, sampai pH air. Alat-alatnya juga tidak murah, apalagi sistem yang bergantung pada listrik seperti NFT. Kalau ada kesalahan, tanaman bisa cepat mati,” tuturnya.


‎Baik Sri maupun Ima sepakat bahwa bertani tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Hidroponik justru membuka ruang baru bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.


‎“Semoga anak muda tidak mengedepankan gengsi. Bertani adalah pekerjaan mulia. Tanpa petani, kita tidak bisa menikmati hasil bumi,” ujar Wulandari.


‎Fenomena ini menunjukkan bahwa pertanian memiliki masa depan yang cerah di tangan generasi muda. Dengan semangat inovasi dan keberanian mencoba hal baru, Gen Z membuktikan bahwa bertani ala mereka bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan langkah strategis menuju pertanian berkelanjutan di masa depan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: