Disway Award

Kemajuan untuk Siapa, Jika Anak Kehilangan Tanah

Kemajuan untuk Siapa, Jika Anak Kehilangan Tanah

Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Oleh : Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Lagu Where Do the Children Play? yang ditulis Cat Stevens pada awal 1970-an terdengar sederhana, nyaris seperti nyanyian pengantar tidur. Namun di balik melodi lembut dan suara yang penuh kehangatan itu, tersembunyi sebuah pertanyaan etis yang tajam dan mengganggu: di mana anak-anak akan bermain ketika semua ruang telah kita kuasai, bangun, dan habiskan? Pertanyaan ini bukan sekadar tentang taman, lapangan, atau tanah kosong, melainkan tentang masa depan relasi manusia dengan lingkungannya, tentang arah peradaban yang kita pilih.

Yusuf Islam alias Cat Stevens tidak sedang menolak kemajuan. Ia justru menyoal logika kemajuan yang kehilangan kebijaksanaan. Jalan tol dibangun, gedung-gedung menjulang, mesin bekerja tanpa henti, tetapi manusia lupa bertanya: apakah dunia yang kita bangun masih layak dihuni oleh generasi setelah kita? Di titik inilah lagu tersebut menjelma menjadi elegi ekologis, ratapan sunyi atas bumi yang perlahan kehilangan ruang bernapasnya.

Manusia dan Hasrat Menguasai Alam

Sejak Revolusi Industri, hubungan manusia dengan alam mengalami pergeseran mendasar. Alam tidak lagi dipahami sebagai rumah bersama, melainkan sebagai objek eksploitasi. Hutan dilihat sebagai kayu, sungai sebagai energi, tanah sebagai komoditas. Rasionalitas teknologis, meminjam istilah para pemikir kritis mendorong manusia untuk menaklukkan, mengukur, dan mengendalikan segala sesuatu, termasuk kehidupan itu sendiri.

Dalam konteks ini, pertanyaan “Where do the children play?” menjadi simbol hilangnya ruang alami akibat kerakusan pembangunan. Anak-anak, yang seharusnya tumbuh dalam kontak langsung dengan tanah, air, dan pepohonan, kini lebih akrab dengan layar, beton, dan polusi. Bukan karena mereka memilihnya, melainkan karena dunia yang diwariskan kepada mereka telah kehilangan alternatif.

Ironisnya, pembangunan sering kali dilakukan atas nama masa depan anak-anak. Sekolah megah, kota pintar, kawasan industri, dan perumahan elit diklaim sebagai investasi generasi mendatang. Namun investasi macam apa yang mengorbankan hak anak untuk bermain di alam, menghirup udara bersih, dan mengenal musim?

Kemajuan yang Kehilangan Arah Moral

Cat Stevens dengan lirih namun tegas menyindir kebanggaan manusia pada teknologi. Kita mampu membuat bom, pesawat, dan gedung pencakar langit, tetapi gagal menjaga keseimbangan hidup. Kemajuan menjadi tujuan itu sendiri, terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekologis.

Di sinilah krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari krisis moral. Kerusakan alam bukan semata akibat kurangnya teknologi hijau, melainkan akibat cara pandang manusia yang memutus hubungan etis dengan alam. Ketika alam direduksi menjadi angka dalam laporan ekonomi, maka kehancurannya hanya dianggap sebagai “biaya pembangunan”.

Lagu ini mengingatkan bahwa setiap jalan raya yang kita bangun di atas sawah, setiap sungai yang kita beton, dan setiap gunung yang kita keruk, menyisakan pertanyaan yang tak terjawab: ke mana kehidupan akan bergerak setelah ini?

Anak-Anak sebagai Ukuran Keadilan Ekologis

Anak-anak dalam lagu Cat Stevens bukan hanya sosok biologis, melainkan simbol masa depan. Mereka adalah generasi yang tidak ikut memilih sistem ekonomi dan politik hari ini, namun akan menanggung seluruh akibatnya. Dalam perspektif ini, krisis lingkungan adalah bentuk ketidakadilan lintas generasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: