Disway Award

Di Balik Ramainya Bukber, Ada Nostalgia dan Silaturahmi Bertemu

Di Balik Ramainya Bukber, Ada Nostalgia dan Silaturahmi Bertemu

Buka bersama menjadi kegiatan untuk kilas balik sekaligus mempererat kembali tali pertemanan --

INFORADAR.ID - Ramadan tidak hanya identik dengan ibadah puasa dan berburu takjil. Bagi sebagian orang, bulan suci juga menjadi momentum mempertemukan kembali mereka yang lama tak bersua. Tradisi buka bersama atau bukber menjelma menjadi ruang reuni kecil yang menghadirkan nostalgia, tawa lama, dan cerita yang sempat terputus oleh kesibukan masing-masing.

‎Fenomena ini kerap terlihat dari grup percakapan yang kembali aktif menjelang Ramadan. Obrolan yang sebelumnya sepi mendadak ramai dengan wacana menentukan tanggal, memilih tempat, hingga membahas menu berbuka. Dari teman sekolah dasar, rekan satu kelas saat SMA, hingga kawan organisasi kampus, semua seakan memiliki alasan yang sama: ingin kembali duduk dalam satu meja dan mengulang kenangan.

‎Bukber dalam konteks ini bukan sekadar agenda makan bersama. Ia menjadi ruang aman untuk mengingat masa lalu, membandingkan perjalanan hidup, hingga saling menguatkan. Banyak yang mengaku, pertemuan semacam ini menghadirkan perasaan hangat yang sulit tergantikan oleh percakapan virtual.

‎Nur Aisyah, mahasiswa UPI Serang, mengaku setiap Ramadan selalu menantikan momen buka bersama dengan teman-teman lamanya. Menurutnya, bukber menjadi kesempatan untuk kembali merasakan suasana kebersamaan seperti dulu.

‎“Kalau bukber itu rasanya kayak balik ke masa sekolah. Bisa ketawa bareng lagi, cerita hal-hal receh yang dulu pernah kita alamin. Walaupun sekarang sudah punya kesibukan masing-masing, tapi momen itu bikin kita ngerasa dekat lagi,” ujarnya.

‎Ia menambahkan bahwa suasana Ramadan membuat pertemuan terasa lebih bermakna dibanding hari biasa. Selain berbagi cerita, ada nilai spiritual yang ikut menyatukan.

‎Secara tidak langsung, Nur Aisyah menilai bukber menjadi pengingat bahwa relasi sosial perlu dirawat. Kesibukan kuliah dan aktivitas sehari-hari kerap membuat komunikasi dengan teman lama terabaikan. Melalui momen buka bersama, ia merasa hubungan yang sempat renggang dapat terhubung kembali.

‎Di sisi lain, tradisi ini juga menunjukkan bagaimana Ramadan menjadi ruang sosial yang inklusif. Tidak sedikit orang yang memanfaatkan bukber untuk saling memaafkan, menyelesaikan kesalahpahaman, atau sekadar memastikan kabar satu sama lain. Dalam suasana berbagi hidangan dan menunggu azan magrib, percakapan terasa lebih cair dan jujur.

‎Meski sederhana, duduk melingkar sambil menyantap makanan berbuka sering kali menghadirkan refleksi tentang perjalanan hidup masing-masing. Ada yang sudah bekerja, ada yang masih berjuang menyelesaikan studi, bahkan ada yang datang membawa cerita baru tentang keluarga kecilnya.

‎Tradisi buka bersama akhirnya bukan hanya soal menu paket Ramadan atau tempat yang estetik untuk berfoto. Di antara deretan jadwal dan kesibukan, Ramadan menghadirkan waktu untuk kembali terhubung, mengenang, dan mensyukuri kebersamaan yang mungkin sempat terlupakan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: