Tips Biar Nggak FOMO Bukber Versi Gen Z, Ramadan Tetap Seru Tanpa Boros
Sejumlah anak muda menolak dalam acara buka bersama di salah satu kafe, momen yang kerap memicu fenomena FOMO selama bulan Ramadan--
INFORADAR.ID - Bulan Ramadan identik dengan agenda buka bersama atau bukber yang seolah tak ada habisnya. Dari teman sekolah, teman kampus, rekan kerja, hingga komunitas, semua berlomba-lomba membuat rencana pertemuan. Bagi sebagian anak muda, banyaknya undangan bukber justru menimbulkan rasa FOMO atau fear of missing out.
Fenomena ini cukup dekat dengan keseharian Gen Z. Tak sedikit yang merasa tidak enak hati jika menolak ajakan bukber karena takut dianggap menjauh atau tidak solid. Padahal, terlalu sering menghadiri bukber juga bisa berdampak pada kondisi finansial dan energi selama berpuasa.
Agar Ramadan tetap menyenangkan tanpa tekanan sosial, ada beberapa tips yang bisa diterapkan.
Pertama, tentukan prioritas circle. Tidak semua undangan harus dihadiri. Pilih momen yang benar-benar bermakna, seperti bukber bersama sahabat dekat atau keluarga. Dengan membatasi agenda, waktu dan energi tetap terjaga.
Kedua, atur anggaran khusus bukber. Gen Z yang mulai sadar finansial sebaiknya membuat batas maksimal pengeluaran selama Ramadan. Dengan begitu, keinginan untuk ikut semua acara tidak berujung pada dompet yang menipis sebelum Lebaran tiba.
Ketiga, belajar menolak dengan cara yang elegan. Menolak bukan berarti memutus silaturahmi. Sampaikan alasan dengan jujur dan sopan, misalnya karena jadwal padat atau sedang ingin menghemat. Komunikasi yang baik justru menunjukkan kedewasaan dalam bersikap.
Keempat, hindari membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial sering menampilkan momen bukber dengan outfit terbaik dan lokasi mewah. Padahal, esensi Ramadan bukan pada tempat atau penampilan, melainkan kebersamaan dan nilai ibadahnya.
Di tengah budaya FOMO yang kerap melekat pada generasi muda, Ramadan bisa menjadi momen belajar mengendalikan diri, termasuk dalam urusan sosial. Bukber memang seru, tetapi menjaga keseimbangan antara pertemanan, keuangan, dan kesehatan jauh lebih penting.
Dengan memilih secara bijak, anak muda tetap bisa menikmati suasana Ramadan tanpa harus merasa tertinggal. Karena pada akhirnya, kebersamaan tidak diukur dari seberapa sering hadir, melainkan dari kualitas hubungan yang terjalin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
