Apa yang membuat banyak orang, dari dalam maupun luar negeri, masih merasa perlu bertemu, berdiskusi, dan menjaga hubungan baik dengan Jokowi?
Apakah semuanya bodoh? Apakah semuanya salah menilai? Apakah semuanya telah terkena “mantra Jokowi”? Atau jangan-jangan, sesederhana ini: mereka melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat.
Di negeri ini, kita memang memiliki tradisi politik yang unik. Kita bisa mencintai seseorang sampai seluruh kesalahannya dianggap benar. Tetapi kita juga bisa membenci seseorang sampai seluruh kebaikannya dianggap mencurigakan.
Dua-duanya sama-sama tidak sehat. Yang satu melahirkan kultus. Yang satu melahirkan kebencian. Dan keduanya sama-sama membuat kita kehilangan objektivitas. Maka kalau ada yang mengatakan Jokowi adalah “mantan presiden rasa presiden”, silakan saja protes.
Kalimat itu memang bisa terdengar provokatif. Tetapi kalau ingin lebih tenang, mungkin kita cukup mengatakan: Jokowi adalah mantan presiden dengan aura kepresidenan.
Bukan karena ia masih berkuasa. Bukan karena ia masih duduk di Istana. Bukan karena konstitusi memberinya kewenangan tambahan.
Tetapi karena pengalaman sepuluh tahun sebagai kepala negara meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dicabut melalui pergantian jabatan: rekam sejarah dan jejaring penghormatan.
Dan kalau kenyataan itu membuat sebagian orang tidak nyaman, barangkali tidak perlu buru-buru menyalahkan Jokowi.
Cobalah sesekali bertanya kepada diri sendiri:
“Mengapa saya begitu terganggu melihat orang lain menghormati orang yang tidak saya sukai?”
Pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada:
“Bagaimana caranya memperlakukan Jokowi senista mungkin?”
Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang sedang berkuasa.
Kualitas sebuah bangsa juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang sudah tidak berkuasa.
Dan mungkin, di situlah kita bisa membedakan antara kritik yang lahir dari kecintaan kepada negeri dengan kebencian yang sekadar membutuhkan sasaran.
Jokowi boleh dikritik.